Sang Idealis Matematika – Review Novel Guru Aini (2)

๐Ÿ๐ŸŒธโ„

“Matematika itu menarik. Jika bisa ditemukan. Kau hanya perlu menemukan saat menarik itu”

Kalimat di atas terdengar klise. Tapi memang benar bagi sebagian orang. Bagi sebagian lainnya, ia akan tetap menjadi bidang ilmu yang cukup sering dijauhi. Dilirik pun tidak. Tapi ingat saja, dasar-dasarnya itu penting. Jadi jangan menjauhinya terlalu jauh.

Novel Guru Aini ini bercerita tentang perjuangan Bu Desi mengajarkan matematika. Ia terinspirasi dari gurunya dahulu yang mengajar matematika dengan menyenangkan. Tekadnya mulai tumbuh ketika itu sehingga ia mengambil sekolah kedinasan guru matematika. Sebagai pemuda, Bu Guru Desi punya idealisme tinggi. Banyak cobaannya memang. Idealismenya harus tetap dipertahakan. Pernah ia hampir akan melepaskan idealismenya, tapi tidak jadi.


Ketika sudah sampai dengan bersusah payah di tempat Bu Guru Desi bertugas, ia terkenal Guru yang eksentrik dan masih idealis. Sampai seterusnya, ia memegang prinsipnya. Ia percaya, kemiskinan dan kepercayaan diri yang rendah membuat mereka selalu merasa hal-hal akademik yang hebat akan selalu menjadi milik orang lain, milik orang kota, milik anak-anak cemerlang di sekolah-sekolah hebat. Ia bertekad akan menemukan seorang jenius matematika untuk dididiknya langsung. Ini bukan melulu soal matematika, ini soal keberanian bermimpi. Ibu Desi lalu membuat janjinya.

Aku akan terus memakai sepatu olah raga pemberian ayahku sampai anak jenius matematika itu di kampung Ketumbi ini dapat kutemukan.

Waktu terus berlalu. Ia punya sahabat Laila tempatnya berkisah tentang masalah dan cita-citanya.

“Seorang guru matematika haruslah menjadi seorang idealis, Laila, begitu pendapatku”.

Ia melanjutkan:” Tanpa idealisme, matematika akan menjadi lembah kematian pendidikan”

#Novel Guru Aini

Gantungan kunci di Asakusa

Sayangnya, dari kelas yang satu ke kelas lainnya, tahun ajaran terus berganti, anak jenius seperti yang diharapkannya tak kunjung ditemukannya di Kampung Ketumbi. Dan ternyata juga, nasib yang sama dialami oleh teman-teman lainnya yang dikirim ke sekolah-sekolah lain.

Masih idealis, Bu Desi juga berpendapat: “Kemampuan matematika itu tidak dilahirkan, Laila, tapi dibentuk”

Sayang seribu sayang, selama bertahun-tahun, ia belum juga menemukan si jenius matematika.

Bersambung ๐Ÿ๐ŸŒธโ„

Salam,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *