Hidup dan Bola

πŸ€β„πŸπŸŒΈ

Hadapilah setiap pertandingan dalam hidup itu seperti sedang bermain bola. Selalu masih ada kesempatan untuk bertanding dan berbuat sebelum tiga peluit terakhir berbunyi.

Jangan takut untuk berlari dan menendang bolanya. Bola itu bulat, seperti juga takdirNya kepada kita. Kita tidak akan tahun akan ke mana dan akan jatuh seperti apa. Tugas kita adalah membawa bola menuju gawang dengan se-kemampuan kita.

Kalah dan menang ketika bertanding itu tidak mengapa. Yang mengapa adalah tidak bertanding ketika menganggap lawannya itu lebih kuat. Pun, jika kita harus menghadapi lawan yang benar-benar kuat, apa salahnya. Kita hanya tinggal bertanding. Malah, lawan yang lebih kuat membuat kita juga belajar banyak. Jika saatnya, kemenangan juga akan datang.

πŸŒΊπŸ€β„

Jadi, begitulah hidup. Mari bertanding dengan baik. Bola itu masih akan menggelinding selama peluit terakhir belum berbunyi.

Bukankah, hidup yang tidak diperjuangkan tidak akan dimenangkan. Kata seorang bijak.

Salam,

Review Sederhana Tentang Buku Guru Aini karya Andrea Hirata (1)

πŸ€β„πŸŒΈ

Perkenalan pertama dengan buku atau novel karya Andrea Hirata terjadi belasan tahun silam ketika masih menempuh pendidikan di Pondok. Karya pertamanya yang sangat berkesan adalah Laskar Pelangi. Siapa yang tidak kenal Novel tersebut di tahun itu?!. Novel tersebut sangat laris dan menarik sehingga diterjemahkan ke belasan bahasa dunia. Berkisah tentang perjuangan penulis sendiri dan teman-temannya dalam menempuh pendidikan di desa kecil di Bangka Belitung dan kepintaran sahabatnya yang luar biasa. Ia juga berkisah tentang keikhlasan Bu Guru Muslimah dan Pak Harfan mendidik mereka dengan ikhlas.

Tetralogi karya Andrea Hirata selanjutnya berkisah tentang takdir dan perjuangan yang membawanya bisa kuliah di Luar Negeri, di Sorbonne, Prancis.


Perkenalan itulah yang sangat membekas sehingga saya mengikuti novel-novel beliau hingga yang terbaru saat ini. Termasuk buku Guru Aini. Buku ini ditulis dengan penulisan yang khas. Dengan kata-kata yang sederhana. Ia berkisah tentang idealisme seorang guru matematika muda yang terinspirasi oleh gurunya. Namanya Ibu Desi Istiqomah. Setelah menyelesaikan sekolah menengahnya, ia melanjutkan pendidikan Guru.

Ketika selesai pendidikan guru, setiap lulusan akan diundi untuk penempatan tempat pengabdian sebagai guru. Setiap orang harap-harap cemas. Sebagian besar berharap ditempatkan di tengah-tengah kota agar akses lebih mudah. Namun memang, harus ada yang ditempatkan ditempat terpencil sehingga penentuannya menggunakan undian. Singkat cerita, Ibu Desi memilih untuk menggantikan temannya yang menangis karena terpilih untuk mengajar di lokasi terpencil.

Suka duka bahkan dihadapi Bu Guru Desi sebelum perjalanan, selama perjalanan, hingga ia berhasil sampai di tempat tujuannya.

To be continued.. πŸ™‚

Salam,

Merantau – Salah Satu Cara Memperluas Hidup

###

Di tanah rantauan, mau tidak mau kau akan dilatih untuk hidup β€˜sendiri’ dan mandiri. Pada akhirnya, kau akan menjadi bebas melakukan apa pun yang kau inginkan. Sembari menanggung resiko dan menghadapi tantangan dari pilihan yang kau ambil.

Di luar itu, tertait tentang merantau, kau bisa baca tulisan Prof. Ariel Heryanto di link berikut: https://arielheryanto.com/2016/03/04/perantau/

Menjadi perantau itu memiliki kelebihan tersendiri yang tidak akan pernah kau dapatkan jika tidak merantau. Yang paling berubah adalah pola pikir, lalu kebiasaan sehari-hari. Jika kita menemukan pola pikir yang tepat, maka itu sangat bagus sekali. Jika pun tidak, selama tidak berhenti belajar, itu juga bagus. Kebiasaan sehari-hari yang dilakukan sendiri merupakan pengalaman yang pasti dirindukan oleh para perantau ketika sudah kembali ke β€˜kampung halaman’. Tentu tidak semua kebiasaan di perantauan harus dibawa pulang.

Menurut pak Dahlan Iskan, perantau itu memiliki kesempatan yang jauh lebih tinggi untuk sukses dibandingkan dengan yang tidak merantau. Hal ini disebabkan perantau menggunakan sebagian besar waktunya dalam keseharian untuk melakukan yang benar-benar ingin dilakukannya. Jika tidak merantau, ia akan terkungkung dengan kondisi sosial di daerahnya. Ia tidak bisa secara bebas melakukan apapun yang diinginkannya. Pasti ada saja urusan yang β€˜harus’ dilakukan di luar prioritas kehidupan yang benar-benar ingin dilakukannya. Silaturrahmi dengan kawan lah, diajak main-main lah, urusan keluarga lainnya lah, urusan dengan masyarakat lah, bercengkrama ngalor ngidul dengan teman-teman, santai-santai sambil ngopi, makan tinggal makan dan tidak akan takut akan makan apa nanti atau besok, banyak aturan yang mau tidak mau harus dijalankan. Ini bukan hal yang buruk ya. Tapi, ya, begitulah.

Bersepeda menuju Ichinoya Dormitory, Tsukuba

Pada titik tertentu, tidak merantau baik di satu sisi, namun memiliki banyak kelemahan di sisi lainnya. Jadi merantau lah, walaupun memang, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk merantau.


Bagi mereka yang sudah merasakan merantau, kadang ia akan berpikir bahwa jika tidak merantau, kita memang bertahan hidup, tapi tidak hidup sesungguhnya. Ia jarang sekali akan punya banyak waktu untuk ambisi dan dirinya sendiri. Kecuali memang, ia punya komitmen yang kuat untuk dirinya sendiri.

Banyak hal yang bisa didapatkan dari merantau. Sudah banyak yang membahas ini. Boleh dicari di situs-situs lainnya.

Usahakan untuk pernah merantau, karena di sanalah kau bisa menemukan diri mu sendiri. Jika tidak ketemu ketika merantau, kau akan menemukannya ketika sudah tidak merantau.

Merantau lah, maka kau akan menemukan bahwa dunia ini selalu lebih luas dari yang kita pikirkan tentangnya. Jika belum bisa merantau secara fisik, paling tidak, kita bisa merantau secara pikiran.  

#Salam #Respost Tulisan sebelumnya

Seorang Anak itu Berharga

Seorang anak sudah dilahirkan demikian adanya. Terserah Sang Pencipta. Yang jelas, ia pasti ditempatkan ditempat terbaik. Pernah tahu, di mana kupu-kupu meletakkan telurnya?. Kupu-kupu itu meletakkan telurnya di bagian daun tertentu, biasanya di bagian bawah daun. Tapi banyak yang ditempat lainnya. Intinya, ia akan memilih tempat terbaik untuk keturunannya nanti. Ketika akan menetas, dipastikan harus sudah ada makanan yang tersedia di dekatnya. Lingkungannya harus aman adar tentu saja tidak dimangsa musuhnya.

Lebah Ceratina mengunjungi bunga untuk saling memberi manfaat

Seperti itulah makhlukNya, apalagi Sang Kholiq. Terlahir di manapun, orang lain tidak punya keuntungan seperti kau yang di lahirkan dari keluarga tersebut.

Jadi mari selalu bersyukur.


Dikutip dari akun twitter @meyysi, bahwa Habib Luthfi pernah berpesan:

Pesan ulama-ulama sepuh dulu, kalau ingin punya anak yang Hebat dan Berkah, orang tua terutama ibunya harus mau tirakat. berikut anjuran nirakati anak:

  • Kasi harta yang Halal. Anak jangan sampai diberi harta yang masih ‘remang-remang’ kehalalannya, apalagi yang haram, sangat dilarang.
    • Puasai hari kelahiran anak. Orang tua hendaknya berpuasa pada ahri kelahiran anaknya walaupun hanya sebulan sekali.
      • Menjaga lisan. Artinya, orang tua selain menjaga lisan kepada anaknya, jangan sampai menggiabah, mencaci atau menghina orang lain terlebih lagi guru anaknya walaupun guru itu di hadapan manusia terlihat orang biasa.
    • Setiap ibu mencuci beras yang akan dimakan anaknya, hendaknya beras itu dibacakan Bismillah 21 kali dan Shalawat 11 kali.

Kita hanya bisa berusaha, sisanya, serahkan kepada departemen Ketuhanan.

Salam,

Merdeka Itu Hak

β„πŸŒΈβ˜˜

Menjadi merdeka adalah kebutuhan setiap manusia. Dengan menjadi merdeka, ia bisa menentukan kehidupannya dengan bebas sesuai dengan apa yang ingin dilakukan. Kebebasan inilah yang merupakan salah satu nikmat luar biasa yang diberikanNya pada setiap manusia.

Suasana pagi hari di Sembalun

Dalam manaqibnya, Imam Asy-syafi’i pernah berkata: “Allah menciptakanmu dalam keadaan merdeka, maka hiduplah sebagaimana kau diciptakan.”

Twitter: @thoriqotuna

Kau tahu kawan,

Merdeka itu bukan berarti tidak memiliki pegangan. Merdeka itu, hanya berpegang padaNya.

Merdeka itu bukan berarti bebas melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya. Merdeka itu, kita mengambil keputusan yang sudah diperhitungkan.

Merdeka itu jujur. Kalau kau berbohong, kau tidak akan pernah bisa merdeka. Percayalah.

Merdeka itu mengambil keputusan dengan terlebih dahulu berdo’a padaNya. Bukan mengambil keputusan seenak hati. Jika sudah izin kepadaNya, apapun kenyataan yang terjadi, itulah yang baik.

Merdeka itu adil.


“Seorang terpelajar harus sudah adil sejak dari dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan” #Pramoedya Ananta Toer

Salam,

Setiap Orang tidak Diciptakan Sama

πŸŒΈβ„πŸ‚

Hidup yang dijalani setiap orang berbeda-beda. Hanya karena kita bisa melakukan sesuatu, tidak berarti orang lain bisa melakukannya. Pun, hanya karena orang lain bisa melakukannya, tidak berarti kita juga bisa melakukannya. Banyak faktor yang memengaruhi. Hal ini mungkin terkesan seperti menyarankan orang untuk mudah menyerah atau tidak berjuang seperti orang lain. Tidak. Tidak seperti itu. Hal di atas berarti bahwa masing-masing diri kita bisa melakukan apa yang mampu kita lakukan, pun sebaliknya. Mengenal apa yang bisa dan tidak bisa kita lakukan adalah salah satu cara pertama untuk lebih baik.

Dalam banyak cerita, tidak sedikit orang yang berjuang mati-matian sekuat tenaga, lalu mendapatkan apa yang diperjuangkan. Namun, kita juga perlu ingat bahwa lebih banyak lagi orang-orang yang sudah berjuang sekuat tenaga dan belum mendapatkan apa yang diperjuangkannya. Keduanya orang-orang hebat. Mereka berjuang, itu intinya. Daripada orang yang langsung menyerah.

Lebah Xylocopa sedang menuju bunga. Mereka saling membutuhkan.

“Kita harus rela melepaskan beberapa hal untuk mendapatkan hal-hal lainnya. Karena, tangan kita tentu saja tidak akan bisa memegang semua hal yang kita inginkan”

Nah, hal yang menentukan pada akhirnya adalah takdir yang diberikan kepada kita oleh Sang Maha. Seberapapun kita berusaha mendapatkan sesuatu, jika bukan untuk kita, kita tidak akan dapat. Sahabat Rasulullah SAW berkata, “Sesuatu yang ditakdirkan untuk kita, tidak akan melewati kita”. Kita perlu juga mengerti bahwa takdir dan usaha itu adalah sesuatu yang berbeda. Kita tidak bisa semata-mata mengatakan itu takdir kita jika tidak atau belum berusaha. Dan juga, seorang sufi pernah berkata, “Jika engkau ditakdirkan berdo’a dan berusaha, itu adalah tanda awal akan tercapainya apa yang engkau inginkan”. Kurang lebih, seperti itu.


Maka, mari berusaha untuk tidak iri terhadap orang lain. Ada sih manfaatnya, tapi tidak banyak. Kalau kata Gus Baha, “Awal mula rasa tidak syukur kita adalah melihat apa yang dimiliki orang lain”

Lebih baik berusaha saja mensyukuri yang ada. Itu bisa mengikat nikmat tersebut. Dari pada tidak mensyukuri yang ada, itu bisa melepaskan nikmat yang sudah ada. β˜˜πŸŒΈβ„

Salam,

Sampah Dedaunan yang Berserakan

πŸ‚πŸƒπŸ

Dedaunan merupakan bagian dari pohon yang mampu melakukan fotosintesis sehingga pohon dapat memenuhi kebutuhan energinya. Energi tersebut digunakan untuk proses kehidupan pohon. Umumnya, daun yang masih mampu melakukan fotosintesis terlihat berwarna hijau, namun ada juga yang warna lainnya. Setelah menjadi tua, dedaunan tersebut berubah warna menjadi coklat, lalu menjadi coklat, lalu kering. Dengan bantuan angin dll, tangkai daun lalu berpisah dengan rantingnya. Mereka mungkin akan saling merindukan. Kemudian dedaunan itu pun jatuh ke tanah ditarik kekuatan tidak terlihat yang diberi istilah gravitasi.

Sudah. Sudah cukup untuk istilah-istilah serius dan agak membingungkan. Hhee

Nah, dedaunan yang jatuh ke tanah lalu menjadi sampah berserakan. Tapi, itu hanya istilah saja. Tergantung tempatnya juga. Di tempat yang bersih dan rapi, daun-daun itu tetap saja terlihat cantik. Kalau di sini, daun-daunnya tidak indah. Jadi jika jatuh berserakan, segeralah disapu hingga bersih, lalu dibakar. Oh iya, pernah, dulu, penulis diajarkan bahwa jika kita menyapu satu daun saja, maka akan diciptakan satu malaikat l kebaikan untuknya atau satu bidadari. Hhee. Semoga bisa jadi motivasi. Kalau di sana, daun-daunnya sengaja dibiarkan berserakan. Masih terlihat cantik. Malah sangat disenangi. Jadi dibiarkan saja. Nanti kalau menumpuk baru dibersihkan. Daun yang bagus bentuknya itu daun momiji. Pas di pohon, ia juga punya banyak warna. Tapi ingat, ia tetap penuh manfaat di manapun berada.

Dekat Asrama Ichinoya, Kampus Tsukuba

Peran penting daun ternyata selalu ada, di tahap apapun ia. Ketika masih menyatu dengan tangkai, ia berperan menghasilkan energi bagi pohon atau menjadi makanan ulat sebelum jadi kupu-kupu. Ketika sudah kering lalu terjatuh, ia bisa mengurangi penguapan tanah yang ditutupinya. Jadi tetap lembab. Ketika melapuk, ia menjadi makanan bagi makhluk-makhluk kecil di tanah. Sumber kehidupan bagi makhluk-makhluk tersebut.


πŸ‚πŸƒπŸ

Paling tidak, kita berniat dan berusaha seperti daun. Meskipun jarang diperhatikan orang-orang, ia bekerja dalam diam. Meski sudah jatuh ke tanah pun, ia masih bisa bermanfaat. Yahh, tidak apa-apa jika yang kita lakukan ialah hal-hal kecil saja. Yang penting, baik, itu sudah cukup.

Salam,

Ada di Saat Ini

Dalam bahasa yang cukup terkenal, ada di saat ini dikenal dengan Being Present. Kata kata ini terkenal karena kita yang saat ini banyak terkacaukan oleh banyaknya informasi. Tubuh dan pikiran kita tidak berada di tempat yang sama. Lalu kita sendiri, tidak menikmati keadaan sekitar kita saat ini. Terlebih lagi di era banjir informasi saat ini. Otak kita tidak tahu akan fokus ke mana. Semua hal terasa bisa dilakukan dan terasa penting untuk dilakukan saat ini.

Di dalam prinsip yang dipegang oleh Bangsa Jepang, ada istilah yang terkenal yaitu Ikigai (lihat juga: https://mengejakata.home.blog/2020/07/17/ikigai-ichi/). Salah satu prinsip dalam ikigai tersebut adalah hadir di saat ini. Hal ini sangat penting karena kita hidup di tempat dan waktu ini, bukan di yang akan datang maupun lampau dan di tempat lain. Saat ini memengaruhi masa depan. Jadi, hidup di saat ini dan hadir di saat ini akan memengaruhi masa depan kita. Jangan tanya tentang masa lalu, kita tidak akan pernah hidup di sana dan tidak bisa dirubah juga.

🌸🌺🍁

Prinsip ikigai ini lalu menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat Jepang yang kita kenal saat ini. Mereka memperhatikan hal-hal yang sangat kecil di sekitar mereka. Toko-toko makanan khas di sana diturunkan turun temurun selama beberapa generasi sehingga mereka memang ahlinya makanan tersebut. Lingkungan mereka selalu bersih karena dijaga sebaik mungkin untuk selalu bersih, ketika mengawali hari dan mengakhiri hari. Sebelum mereka menyantap makanan, mereka mengucapkan Ittadakimasu. Sebenarnya, itu merupakan ajaran Shinto untuk berterima kasih dan mengingat dan menghargai apa pun maupun siapa pun yang berperan sehingga makanan tersebut sampai di meja makan. Jadi, artinya tidak hanya sesederhana Selamat Makan.

Baru-baru ini, penulis juga menonton tayangan youtube di channal GreatMind yang membahas tentang Stoicism. Salah satu prinsipnya juga adalah kita hendaknya hari ada di saat ini.

πŸ‚πŸπŸ€

Semoga kita bisa, karena ini salah satu cara bersyukur dan cara untuk selalu mengingatNya.

Salam,

Dunia Itu Penting

πŸ€β˜˜πŸŒΈ

Ketika berpikir atau memikirkan tentang dunia, ada banyak dunia yang dekat dengan diri kita. Masing-masing kita punya dunia sendiri. Tapi, secara umum, yang terpikir tentang dunia adalah dunia yang kita hidup saat ini dan alam di kemudian hari nanti, bagi yang percaya.

Sering kali, kita membagi dan membedakan dunia fisik saat ini dengan alam di kemudian hari nanti. Seolah-olah, ada yang lebih penting dibandingkan lainnya. Iya, memang ada yang lebih penting. Tapi, menurut saya, keduanya adalah hal yang sama pentingnya. Sama penting untuk diperjuangkan dengan sekuat tenaga. Yang penting, kita tahu letak pentingnya masing-masing.

Dunia itu penting, sebagai sarana untuk berbuat kebaikan dan sarana yang membuat kita dan IA saling mencintai. Meskipun, IA sebenarnya sudah dan akan selalu mencintai hamba-hambanya. Kita butuh dunia ini untuk beramal, agar kelak, amal kita bisa dibawa ke alam selanjutnya. Kita butuh dunia ini untuk berbuat, berbuat apa yang disenangiNya dan memupuk cinta padaNya karena di alam selanjutnya, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kita juga butuh dunia ini untuk mengenal kekasih-kekasihnya, terutama kekasih terbaikNya. Agar kelak, kita bertemu beliau, sang makhluk teristimewa. Tanpa dunia, kita tidak tahu akan hidup di mana, akan menyembahNya di mana.

Alam selanjutnya itu penting, sebagai tujuan hidup dan sebagai tempat berbagi kasih sayang denganNya yang Maha dan dengan kekasihNya yang agung.

Jadi, jangan sampai menganggap hina dunia ini. Karena, di sinilah jalan menuju kepadaNya.

Salam,

β„πŸπŸ€

Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Model pembelajaran adalah kerangka kerja yang memberikan gambaran sistematis untuk melaksanakan pembelajaran agar membantu para siswa dalam tujuan tertentu yang ingin dicapai. Pengajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks (Ratumanan dalam Trianto, 2010: 92).

Menurut Tan (dalam Rusman, 2011: 229) bahwa pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah inovasi dalam suatu pembelajaran karena dalam kemampuan berpikir seorang peserta didik betul-betul dioptimalkan melalui proses kerja kelompok atau golongan yang sistematis, sehingga peserta didik dapat memberdayakan, menguji, mengasah dan mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan. Aktivitas pembelajaran harus mampu memahami model – model pembelajaran dengan baik agar pembelajaran dapat terlaksana dengan efektif dan efisien.

Sekolah merupakan salah satu institusi penyelenggara pendidikan yang memiliki tanggung jawab untuk membentuk peserta didik dalam mengembangkan kemampuan berpikir. Dalam hal ini, proses pembelajaran merupakan salah satu faktor yang berperan penting untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dan mampu bersaing di zamannya.

###

Ditulis oleh:

Rohani, Mahasiswa UNIQHBA.