Peran Model dalam Pengembangan Pembelajaran

###

Dalam proses pembelajaran terdapat istilah model yang memiliki arti sebuah kerangka/rancangan pembelajaran yang menggambarkan sebuah prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan suatu pengalaman belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman pagi para perancang dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar. Oleh sebab itu anda sebagai calon pendidik/instruktur atau sebagai guru/instruktur yang sekaligus sebagai perancang dan pelaksana aktivitas pembelajaran harus mampu memahami model-model pembelajaran dengan baik agar pembelajaran dapat terlaksana dengan efektif dan efisien

Sering ditemukan di lapangan bahwa guru menguasai materi dengan baik tetapi tidak dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik.  Hal itu terjadi karna kegiatan tersebut tidak didasarkan pada model pembelajaran tertentu sehingga hasil belajar  yang di peroleh siswa rendah. Untuk membelajarakan siswa sesuai dengan cara gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapau dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Dalam prakteknya, guru harus ingat bahwa tidak ada model yang paling tempat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh karena itu dalam memilih metode pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa sifat materi bahan ajar.

Referensi: Buku Model-model Pembelajaran, karya: Suci Handayani, M.Pd.

Disusun Oleh:

Anam Haridah, Mahasiswa UNIQHBA.

Model-model Pembelajaran

Definisi Model Pembelajaran

Model atau pola biasanya digunakan sebagai acuan atau pedoman untuk membuat, merancang, atau melaksanakan sesuatu kegiatan agar hasil yang didapatkan sesuai dengan yang diharapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar juga diperlukan suatu model agar pelaksanaan dan hasil pembelajaran efektif dan efisien. Model ini kita sebut sebagai model pembelajaran.

Pembelajaran menurut para ahli:

  • Menurut Corey (Sagala, 2010: 61), pembelajaran merupakan suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ikut andil dalam sebuah proses bertingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu.
  • Menurut Trianto (2010: 51), model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial.

Dalam sebuah pembelajaran, model pembelajaran adalah sebuah prosedur atau pola sistematis untuk melaksanakan pembelajaran agar membantu belajar siswa dalam tujuan tertentu yang ingin dicapai.

Macam-macam Model Pembelajaran

     Adapun macam-macam model pembelajaran yang sering digunakan dalam sebuah proses belajar mengajar yaitu:

  1. Model Pembelajaran Langsung

Pembelajaran langsung dapat diartikan sebagai model pembelajaran ketika seorang pendidik  mentransformasikan/mentransfer sebuah  informasi atau keterampilan secara langsung kepada peserta didik.

2. Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Pembelajaran ini membantu peserta didik untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya.

Model Pembelajaran Inquiri

Pembelajaran inquiri adalah suatu kegiatan pembelajaran yang melibatkan seluruh kemampuan peserta didik yang dipergunakan mencari dan menyelidiki secara sistematis, sehingga peserta didik mampu merumuskan sendiri penemuannya atau dengan apa yang diperoleh dengan penuh percaya diri.

###

Disusun oleh:

Marina Hariani, Mahasiswa UNIQHBA.

Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Model pembelajaran adalah kerangka kerja yang memberikan gambaran sistematis untuk melaksanakan pembelajaran agar membantu para siswa dalam tujuan tertentu yang ingin dicapai. Pengajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks (Ratumanan dalam Trianto, 2010: 92).

Menurut Tan (dalam Rusman, 2011: 229) bahwa pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah inovasi dalam suatu pembelajaran karena dalam kemampuan berpikir seorang peserta didik betul-betul dioptimalkan melalui proses kerja kelompok atau golongan yang sistematis, sehingga peserta didik dapat memberdayakan, menguji, mengasah dan mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan. Aktivitas pembelajaran harus mampu memahami model ‚Äď model pembelajaran dengan baik agar pembelajaran dapat terlaksana dengan efektif dan efisien.

Sekolah merupakan salah satu institusi penyelenggara pendidikan yang memiliki tanggung jawab untuk membentuk peserta didik dalam mengembangkan kemampuan berpikir. Dalam hal ini, proses pembelajaran merupakan salah satu faktor yang berperan penting untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dan mampu bersaing di zamannya.

###

Ditulis oleh:

Rohani, Mahasiswa UNIQHBA.

Analisis Model Pembelajaran Learning Cycle 5E Berbasis Inkuiri

Pembelajaran learning cycle 5E berbasis inkuiri merupakan pembelajaran menggunakan tahap   berdasarkan pada aktivitas inkuiri. Dalam  pelaksanaannya, ada beberapa tahap yang digunakan pada penelitian ini, tahap engage, tahap exsplore, tahap explain, tahap elaborate/extend, dan tahap evaluate.    

Pada tahap engage ini, siswa diajak untuk menemukan permasalahan ‚Äď permasalahan dan diberi motivasi untuk membangkitkan kemampuan berfikir mereka agar siswa mampu untuk memecahkan masalah yang diberikan oleh guru mereka.

Pada tahap explore, siswa harus melakukan eksperimen dengan langkah-langkah yang dituju pada pemahaman dan konsep yang diharapkan pelaksanaan pada tahap ini dilakukan dengan bantuan alat perga atu media tumbuhan dan LKS (lembar kegiatan siswa). Media yang digunakan pada penelitian ini adalah tumbuhan. Guru akan memberikan kesempatan pada siswa, siswi  untuk  menyelesaikan permasalahan yang telah diberikan tersebut

Tahap explain, siswa harus mengkomunikasikan  hasil eksplorasi  dengan bahasa mereka sendiri, kemudian, guru menanyakan hal-hal yang terkait dengan hasil eksplorasi  siswa dan menjelaskannya di depan kelas secara bergiliran dan akan diberikan kesempatan lagi  apabila ada yang masih belum dimengerti oleh para siswa .

Tahap elaborate/extend,  siswa  harus mengerjakan  soal latihan yang ada di LKS. Siswa dituntut agar  mengembangkan hasil yang diperoleh pada tahap explor untuk digunakan   dalam memecahkan  suatu permasalahan secarara berkelompok dan menyelsaikan permasalahan yang ada agar guru tau sampai dimana kemampuan siswa memecahkan masalah yang diberikan .

Dan yang terahir, tahap evaluate, siswa diberi soal atau kuis yang harus diselesaikan secara individual, soal yang telah diberikan tersebut digunakan untuk mengetahui¬† sejauh mana siswa ‚Äďsiswi memahami materi yang di ajarkan dan selanjutnya mereka tetntunya akan diberikan soal uraian yang harus mereka kerjakan

Ditulis oleh:

Ema Septiana, Mahasiswa UNIQHBA

Model-model Pembelajaran

Definisi Model Pembelajaran

Istilah model seringkali kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti model celana, model rumah, model baju, dan lain-lain. Dalam fisika anda juga mengenal model atom Thomson, model atom Rutherford, dan model atom Bohr yang semuanya adalah bertujuan untuk memvisualisasikan benda peristiwa yang bersifat mikroskopis maupun bersifat makroskopis. Model juga seringkali dikenal dengan istilah pola. Model atau pola biasanya digunakan sebagai acuan atau pedoman untuk membuat, merancang, atau melaksanakan sesuatu kegiatan agar hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.

Model dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) adalah sebagai pola dari sesuatu yang akan dihasilkan atau dibuat. Secara lengkap, model dimaknai sebagai suatu objek atau konsep yang digunakan untuk merepresentasikan sesuatu hal yang nyata dan di konversi menjadi sebuah bentuk yang lebih komprehensif (Meyer, 1985). Jadi Model Pembelajaran adalah suatu kerangka konseptual yang menggambarkan sebuah prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan suatu pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu , dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar .

Pembelajaran menurut Corey (Sagala, 2010 : 61) merupakan ‚ÄúSuatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ikut andil dalam sebuah proses bertingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu dan pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan‚ÄĚ

Dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar proses untuk satuan Pendidikan dasar dan menengah , diuraikan bahwa :

“ Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan Guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Sebuah proses dalam pembelajaran sangat penting untuk direncanakan , dilaksanakan, dinilai dan diawasi.

Model pembelajaran menurut Trianto ( 2010 : 51 ) , menyebutkan bahawa model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran tutorial.

Model Pembelajaran Langsung

Pembelajaran langsung dapat diartikan sebagai model pembelajaran yang di mana seorang pendidik mentransformasikan / mentransfer sebuah informasi atau keterampilan secara langsung kepada peserta didik , pembelajaran berorientasi pada tujuan dan distrukturkan oleh pendidik (Depdiknas, 2010 : 24 ). Pendidik atau guru berperan sebagai penyampai informasi , dan dalam hal ini guru seyogyanya menggunakan berbagai media yang sesuai, misalnya Film, tape recorder, gambar , peragaan dan sebagainya. Informasi yang disampaikan dapat berupa pengetahuan prosedural (pengetahuan tentang bagaimana melaksanakan sesuatu) atau pengetahuan deklaratif , (pengetahuan tentang sesuatu dapat berupa fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi) .

Model pembelajaran Berbasis masalah

Istilah pembelajaran Berbasis masalah diambil dari bahasa inggris yaitu Problem Based Instruction (PBI). Model pengajaran berdasarkan masalah ini telah dikenal sejak zaman John Dewey. Saat ini model pembelajaran mulai diangkat sebab ditinjau secara umum Pembelajaran berdasarkan masalah terdiri dari menyajikan kepada peserta didik dalam hal ini masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inquiri (Trianto, 2010 : 91).

DAFTAR PUSTAKA

Anam, khairul. 2016 . Pembelajaran berbasis inquiri metode dan aplikasi. Yogyakarta.Pustaka pelajar.

Retno Lukitasari , Dian. 2013 “ Upaya meningkatkan Kemampuan Berpikir kritis siswa melalui model pembelajaran Berbasis Masalah Dengan Berbantuan Film Sebagai Sumber Belajar Pada Pokok Bahasan Sikap Pantang Menyerah Dan Ulet Kelas X PM SMK N 1 Batang “ . Semarang : Universitas Negeri Semarang.

Ridwan. 2010 . ‚ÄúDasar-Dasar Statistic .‚ÄĚ Bandung : Alfabeta.

Sapriya. 2011 . Pendidikan IPS . Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Samatowa , Usman. 2010. Pembelajaran IPA di sekolah dasar Jakarta : indeks.

Santrock , John W. 2011. “ Psikologi pendidikan , Edisi Kedua “ Jakarta : Kencana.

Suastra dan I Wayan, 2009 ‚Äú Pembelajaran Sains Terkini Mendekatkan Siswa dengan Lingkungan Alamiah dan Sosial Budayanya.‚ÄĚ Singaraja : Universitas Pendidikan Ganesha.

Suastra dan Wayan , I . 2009 . ‚Äú Pembelajaran Sains Terkini Mendekatkan Siswa dengan Lingkungan Alamiah dan Sosial Budayanya.‚ÄĚUniversitas Pendidikan Ganesha.

Subagyono , Anas , 1997. “ Statistic Pendidikan “ . Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Ditulis oleh:

Khairul Fadilah (8820120017), Mahasiswa UNIQHBA

Model Pembelajaran Inkuiri (Inquiry Learning)

1. Pengertian dan Langkah-Langkah Model Pembelajaran Inkuiri (Inquiry Learning)

Strategi inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuan-penemuannya dengan penuh percaya diri. Inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta, melainkan hasil dari menemukan sendiri.

2. Beberapa Ciri Pembelajaran Inkuiri

  • Pertama, pembelajaran inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan
  • Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencri dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan untuk dapat menumbuhkan sikap percaya diri.
  • Ketiga, tujuan dari pembelajaran inkuiri yaitu mengembangkan kemampuan berfikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.

3. Kelebihan Model Pembelajaran Inkuiri

  • Pembelajaran ini merupakan pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui pembelajaran ini dianggap jauh lebih bermakna.
  • Pembelajaran ini dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya mereka.
  • Pembelajaran ini merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
  • Keuntungan lain yaitu dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di ata rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.

4. Kekurangan Model Pembelajaran Inkuiri

  • Sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa
  • Sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
  • Kadang-kadang pengimplementasiannya memerlukan waktu yang panjang sehingga sering kali guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan
  • Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka startegi ini tampaknya akan slit di implementasikan.

5. Langkah-Langkah Model Pemebelajarn Inkuiri

  • Merumuskan masalah
  • Mengamati atau melakukan observasi
  • Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya
  • Mengkomunikasikan atau mnyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, audiens yang lainnya

Demikian artikel singkat tentang pengertian dan langkah-langkah model pembelajaran inkuiri (Inquiry Learning). Semoga dapat menjadi referensi dan bermanfaat.


###

Ditulis oleh:

M. Fahrurrozi (8820120028), Mahasiswa UNIQHBA

Model Pembelajaran Konvensional dan PAIKEM

            Proses belajar mengajar konvensional umumnya berlansung satu arah yang merupakan pengelihatan pengetahuaan, informasi, norma, nilai dan lain-lainnya dari seorang pengajar ke siswa. Proses semacam ini di bangun dengan asumsi bahwa peserta didik ibarat botol kosong atau kertas putih. Guru atau pengajarlah yang harus mengisi botol tersebut atau menulis menulis apapun di kertas putih tersebut. Sistem seperti ini disebut banking concept. Proses belajar mengajar dengan sistem ini dibangun oleh seperangkat asumsi berikut :

Pengajar/ Guru/ DosenPeserta Didik
Pinter, serba tauBodoh, serba tidak tau
MengajarDiajar
BertanyaMenjawab
MemerintahMelakukan segala perintah

             Agara tujuan pebelajaran dapat tercapai secara optimal, guru harus dapat melibatkan dan memanfaatkan sebanyak mungkin potensi belajar yang ada dalam diri siswa yang disebut gaya SAVI (Somatik, Auditory, Visual, Intellectua). Pembelajaran gaya SAVI yaitu pembelajaran yang melibatkan aktifitas/gerakan fisik, pendengaran, pengelihatan, dan potensi berfikir.

            Pembelajaran dengan gaya SAVI ini dikenal dengan istilah ACCELERATED LEARNING ( Belajar Cepat). Ada beberapa prinsif dalam pembelajaran ini:

  1. Harus melibatkan fikiran dan tubuh
  2. Belajar adalah proses menciptakan pengetahuaan bukan mengonsumsi pengetahuaan yang telah di ciptakan. Karna itu pengetahuaan bukanlah suatu yang harus tetapi suatu yang harus di ciptakan oleh pelajar.
  3. Kerja sama antara siswa dalam peroses pembelajaran akan mempercepat peroses pencapain pengetahuaan dan menanamkan kesan yang mendalam pada siswa.
  4. Menerapkan empat pilar pembelajaran yaitu : learning to do, learning to know, learning to be, learning to live together.
  5. Emosi positif,  ini sangat besar pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa, perasaan seseorang sangat menentukan kuntitas dan kualitas hasil belajarannya.

Hampir sama dengan accelerated learning, ada beberapa perinsip yang dianut dalam pembelajaran aktif :

  1. Belajar siswa aktif. Yang diharapkan aktif dalam peroses pembelajaran adalah siswa bukan guru, siswalah yang diharapkan secara aktif menemukan pengetahuaan dengan cara mengalami, menghayati, merasakan dan meyakini secara langsung materi pembelajaran.
  2. Belajar koperatif dan kolaboratif. Artinya pembelajarn bebasis kerjasama
  3. Parsipatorik. Siswa belajar dengan cara melakoni sehingga dengan cara ini terjadi proses pembentukan sikap, karakter dan pembiasaan.

            Lebih jelasnya, antara pendekatan pembelajaran kovensional dan pendekatan pembelajarn Aktive Learning dapat ditarik beberapa perbedaan, yaitu:

Pembelajaran KonvensionalPAIKEM
Berpusat pada guruBerpusan pada anak didik
Menekankan pada pusat penerimaaan pegetahuaanPenekanan pada penemuan pengetahuaan
Kurang menyenangakanSangat menyennagkan
Kurang meberdayakan semua indra dan potensi ananak didikMemberdayaakn pada semua indra dan potensi anak didik
Menggunakan metode yang monotonMenggunakan variasi metode
Penggunaan media yang terbatasMenggunakan multi media
Kurang menyesuaikan dengan konteksMenyesuaiakn dengan konteks

###

Ditulis oleh:

Ahmad Fatoni (8820120002), Mahasiswa UNIQHBA

Menikah di Bawah Umur

Menikah di bawah umur adalah suatu permasalahan yang harus bena-benar kita perhatikan imbasnya. Hal ini tidak hanya merugikan diri sendiri ataupun keluarga saja, namun berimbas juga kepada negara. Menikah di bawah umur merupakan suatu hal yang tidak baik bagi kesehatan, terlebih bagi seorang perempuan, karena menikah di bawah umur akan mengakibatkan keseimbangan kesehatan yang akan terganggu. Salah satu buktinya adalah operasi sesar bagi wanita yang belum siap menampung janin di dalam rahimnya.

Selain dari sisi kesehatan, hal-hal yang memang menjadi sebuah perbincangan hangat dalam kehidupan masyarakat adalah banyaknya pemuda dan pemudi yang memiliki hubungan tidak harmonis ketika berumah tangga. Acap kali mereka bertengkar karena permasalahan-permasalahan yang sepele. Bahkan banyak di antara mereka yg menikah di bawah umur tidak bisa menjadi keluarga yang semesti mereka jalankan, mereka sering kali bertengkar sehingga mereka tidak sadar dengan apa yang semestinya dilakukan keluarga dalam suatu rumah tangga. Hal ini terjadi karena mereka membangun sebuah rumah tangga dengan kesiapan yang belum matang, banyak diantara mereka yang bercerai hingga harus kembali menjadi beban keluarga.

Selain hal itu, menikah di bawah umur juga berimbas kepada negara. Mereka yang belum mempunyai kesiapan membangun rumah tangga tidak mempunyai pekerjaan. Angka pengguran menjadi meningkat dan data rakyat miskin menjadi semakin bertambah. Dari persoalan tersebut mereka banyak yang disejahterakan oleh negara. Tentu saja, itu juga suatu hal yang sangat jelas menghabiskan uang negara. Berapa persen anggaran negara harus keluar untuk mereka yang menjadi rakyat miskin dan menjadi beban negara.

Harapan kedepanya, semoga pendidikan menjadi suatu hal yang diprioritaskan bagi pemuda. Semoga orang tua akan selalu tegas dengan persoaalan yang demikian. Harapan selanjutnya, semoga pemerintah daerah berperan tegas dalam hal tersebut agar kehidupan bermasyarakat menjadi harmonis, pengangguran akan berkurang, angka kemiskinan menurun dan semoga pendidikan selalu menjadi prioritas.

###

Ditulis oleh:

Fadlil Azim (8820120013), Mahasiswa UNIQHBA

Kemampuan Berpikir Kritis Siswa dan Model Pembelajaran Inkuiri Berbasis Learning Cycle 5E

Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan yang dimiliki setiap orang untuk menganalisis ide atau gagasan ke arah yang lebih spesifik untuk mengetahui suatu permasalahan dangan melibatkan evaluasi bukti akhir. Berpikir kritis sangat berperan dalam proses pembelajaran siswa karena dapat meningkatkan prestasi siswa dan menunjang keberhasilan pada proses pembelajaran. Dikutip dalam buku karangan Sapriya bahwa tujuan berpikir kritis ialah untuk menguji suatu pendapat atau ide, termasuk dalam proses ini adalah melakukan pertimbangan atau pemikiran yang didasarkan pada pendapat yang diajukan. Berdasarkan fakta di atas, ada beberapa acuan indikator seusia yang digunakan dalam penelitian yang dilakukan di kelas IV MIN se-kabupaten Lombok Tengah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa yang sesuai dengan pembelajaran meliputi :

  1. Memfokuskan pertanyaan.
  2. Menganalisis argument atau siswa dapat mengeluarkan pendapat.
  3. Bertanya dan menjawab pertanyaan tentang suatu penjelasan dan tantangan.
  4. Mengobservasi dan mempertimbangkan hasil observasi dengan guru setelah proses pengamatan selesai.
  5. Mempertimbangkan hasil yang didapatkan saat meneliti dan mengecek ulang agar lebih akurat.
  6. Membuat dan mempertimbangkan nilai keputusan.
  7. Mendefinisikan istilah dengan melihat buku panduan atau buku pelajaran.
  8. Mengidentifikasi asumsi.
  9. Memutuskan suatu tindakan.
  10. Berinteraksi dengan orang lain.

Dalam proses pembelajaran yang mengacu pada indikator tersebut terdapat hasil post-test kemampuan berpikir kritis siswa sebanyak 6,89 yang dinyatakan meningkat dari hasil sebelumnya yaitu pre-test sebanyak 3,26. Hasil ini menandakan bahwa pembelajaran menggunakan model inkuiri berbasis learning cycle 5E yang menuntut untuk siswa lebih mandiri dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, terutama terhadap kelas eksperimen.

Selain bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, model inkuiri berbasis learning Cycle 5E juga bertujuan untuk mengetahui dan meningkatkan proses pembelajaran. Dan untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan model inkuiri berbasis learning Cycle 5E digunakan angket berpikir kritis dengan hasil sebagai berikut :

Yang memilih sangat setuju (SS) berjumlah 18 orang.

Setuju (S) 12 orang.

Tidak setuju (TS) 5 orang, dan

Sangat tidak setuju (STS) 3 orang.

Dari hasil tersebut sudah jelas bahwa menggunakan model pembelajaran inkuiri berbasis learning Cycle 5E disukai oleh siswa dan sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran.

###

Ditulis oleh:

Wardiati, Mahasiswa UNIQHBA.

Implikasi Model Pembelajaran Inkuiri dalam Lingkungan Sekolah

Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri merupakan pendekatan pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah dan kritis pada diri siswa, sehingga siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Pembelajaran menggunakan model pembelajaran inkuiri dengan berbasis learning cycle 5E diberikan kepada kelas eksperimen.

Berdasarkan hasil penelitian pada siswa kelas IV MIN se-kabupaten Lombok Tengah, model pembelajaran inkuiri dengan berbasis learning cycle 5E sangat berpengaruh terhadap kemampuan berfikir kritis siswa. Dalam buku Nur Ma’arifa, berfikir kritis adalah sebuah keterampilan yang penting, sebab membantu dalam membuat keputusan dan memecahkan masalah. Berfikir kritis adalah aktivitas mental yang dilakukan untuk mengevaluasi kebenaran sebuah pernyataan. Umumnya evaluasi berakhir dengan keputusan untuk menerima, menyangkal, atau meragukan kebenaran pernyataan yang bersangkutan. Hal ini bisa diamati berdasarkan hasil keseluruhan pre-test dan post-test.

Adapun hasil pre-test yang diperoleh oleh dua kelompok menunjukkan nilai rata-rata kelompok eksperimen yaitu 3,26 dan nilai rata-rata kelompok control yaitu 3,62. Hal ini menunjukkan bahwa kedua kelompok berawal pada kondisi yang sama. Sedangkan hasil post-test kedua kelompok pada materi struktur dan fungsi bagian tumbuhan menunjukkan nilai rata-rata kelompok eksperimen yaitu 6,89 dan nilai rata-rata kelompok control yaitu 4,72. Berdasarkan nilai rata-rata tersebut, terlihat jelas bahwa kelompok yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran inkuiri berbasis learning cycle 5E mampu meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa yang cukup berbeda dan dapat meningkatkan hasil belajar IPA daripada kelompok yang pembelajarannya tanpa menggunakan model pembelajaran inkuiri dengan berbasis learning cycle 5E.
Pada kelompok eksperimen, selama pembelajaran berlangsung, keaktifan tiap siswa lebih maksimal jika dibandingkan dengan kelas kontrol. Dalam pembelajaran secara lebih maksimal, melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh, dan proses pembelajaran juga berlangsung dengan tenang, tidak ada siswa yang ramai sendiri.
Berbeda dengan pembelajaran konvensional yang siswa hanya melihat dan mendengarkan penjelasan guru sehingga tidak terlihat adanya keaktifan siswa.
Sedangkan dalam model pembelajaran inkuiri dengan berbasis learning cycle 5E ini memberikan pengaruh dalam meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa yang didapat dari hasil tes yang telah diberikan. Pengetahuan tersebut dilihat dari perbedaan hasil tes yang diperoleh kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil tes kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol.

###

Ditulis oleh:

Syahrul Mubarok, Mahasiswa UNIQHBA.