Model-model Pembelajaran

Definisi Model Pembelajaran

Model atau pola biasanya digunakan sebagai acuan atau pedoman untuk membuat, merancang, atau melaksanakan sesuatu kegiatan agar hasil yang didapatkan sesuai dengan yang diharapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar juga diperlukan suatu model agar pelaksanaan dan hasil pembelajaran efektif dan efisien. Model ini kita sebut sebagai model pembelajaran.

Pembelajaran menurut para ahli:

  • Menurut Corey (Sagala, 2010: 61), pembelajaran merupakan suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ikut andil dalam sebuah proses bertingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu.
  • Menurut Trianto (2010: 51), model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial.

Dalam sebuah pembelajaran, model pembelajaran adalah sebuah prosedur atau pola sistematis untuk melaksanakan pembelajaran agar membantu belajar siswa dalam tujuan tertentu yang ingin dicapai.

Macam-macam Model Pembelajaran

ย ย ย ย  Adapun macam-macam model pembelajaran yang sering digunakan dalam sebuah proses belajar mengajar yaitu:

  1. Model Pembelajaran Langsung

Pembelajaran langsung dapat diartikan sebagai model pembelajaran ketika seorang pendidikย  mentransformasikan/mentransfer sebuahย  informasi atau keterampilan secara langsung kepada peserta didik.

2. Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Pembelajaran ini membantu peserta didik untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya.

Model Pembelajaran Inquiri

Pembelajaran inquiri adalah suatu kegiatan pembelajaran yang melibatkan seluruh kemampuan peserta didik yang dipergunakan mencari dan menyelidiki secara sistematis, sehingga peserta didik mampu merumuskan sendiri penemuannya atau dengan apa yang diperoleh dengan penuh percaya diri.

###

Disusun oleh:

Marina Hariani, Mahasiswa UNIQHBA.

Sederhana dalam Hidup

๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿ‚

Sebuah kata yang untuk mencapainya, butuh latihan panjang. Sederhana memandang hidup akan bisa kita rasakan setelah melewati banyak hal. Jika sederhana yang tidak mau tahu, ya bisa kapan saja. Bisa siapa saja. Tapi sederhana yang anggun, tidak banyak yang bisa. Tidak mudah diraih. Butuh melewati banyak hal.

Kesederhanaan akan sempurna dengan hati yang damai, hati yang lapang, perasaan yang tidak mudah menghakimi dan menilai. Yang terpenting, sederhana memandang kehidupan di dunia ini, yaitu dengan hanya harus menjadi hambaNya. Hanya jadi hambaNya.. ๐Ÿ๐ŸŒธโ˜บโ„

Sang Idealis Matematika – Review Novel Guru Aini (2)

๐Ÿ๐ŸŒธโ„

“Matematika itu menarik. Jika bisa ditemukan. Kau hanya perlu menemukan saat menarik itu”

Kalimat di atas terdengar klise. Tapi memang benar bagi sebagian orang. Bagi sebagian lainnya, ia akan tetap menjadi bidang ilmu yang cukup sering dijauhi. Dilirik pun tidak. Tapi ingat saja, dasar-dasarnya itu penting. Jadi jangan menjauhinya terlalu jauh.

Novel Guru Aini ini bercerita tentang perjuangan Bu Desi mengajarkan matematika. Ia terinspirasi dari gurunya dahulu yang mengajar matematika dengan menyenangkan. Tekadnya mulai tumbuh ketika itu sehingga ia mengambil sekolah kedinasan guru matematika. Sebagai pemuda, Bu Guru Desi punya idealisme tinggi. Banyak cobaannya memang. Idealismenya harus tetap dipertahakan. Pernah ia hampir akan melepaskan idealismenya, tapi tidak jadi.


Ketika sudah sampai dengan bersusah payah di tempat Bu Guru Desi bertugas, ia terkenal Guru yang eksentrik dan masih idealis. Sampai seterusnya, ia memegang prinsipnya. Ia percaya, kemiskinan dan kepercayaan diri yang rendah membuat mereka selalu merasa hal-hal akademik yang hebat akan selalu menjadi milik orang lain, milik orang kota, milik anak-anak cemerlang di sekolah-sekolah hebat. Ia bertekad akan menemukan seorang jenius matematika untuk dididiknya langsung. Ini bukan melulu soal matematika, ini soal keberanian bermimpi. Ibu Desi lalu membuat janjinya.

Aku akan terus memakai sepatu olah raga pemberian ayahku sampai anak jenius matematika itu di kampung Ketumbi ini dapat kutemukan.

Waktu terus berlalu. Ia punya sahabat Laila tempatnya berkisah tentang masalah dan cita-citanya.

“Seorang guru matematika haruslah menjadi seorang idealis, Laila, begitu pendapatku”.

Ia melanjutkan:” Tanpa idealisme, matematika akan menjadi lembah kematian pendidikan”

#Novel Guru Aini

Gantungan kunci di Asakusa

Sayangnya, dari kelas yang satu ke kelas lainnya, tahun ajaran terus berganti, anak jenius seperti yang diharapkannya tak kunjung ditemukannya di Kampung Ketumbi. Dan ternyata juga, nasib yang sama dialami oleh teman-teman lainnya yang dikirim ke sekolah-sekolah lain.

Masih idealis, Bu Desi juga berpendapat: “Kemampuan matematika itu tidak dilahirkan, Laila, tapi dibentuk”

Sayang seribu sayang, selama bertahun-tahun, ia belum juga menemukan si jenius matematika.

Bersambung ๐Ÿ๐ŸŒธโ„

Salam,

Melanjutkan Studi PhD, sepertinya Menarik

โ€œTanpa mimpi, orang seperti kita akan mati… – Araiโ€ โ„๐Ÿ€๐ŸŒธ๐Ÿ˜Š

โ€œPesimistik tidak lebih daripada sikap takbur mendahului nasib.โ€

#Pak Cik Andrea Hirata; Sang Pemimpi

โ€œJika kau tidak mengambil resiko, kau tidak akan bisa menciptakan masa depanโ€ #Monkey D. Luffy


Judul di atas hanyalah pemanis. Kenyataannya, tidak akan mudah, harus diakui. Tapi tidak juga mustahil, pasti ada kemungkinan. Semangat. โ„โ˜˜๐ŸŒธ

Saya terlahir di keluarga yang tidak terlalu mengerti tentang seberapa sulit perjuangan memperoleh pendidikan yang tinggi. Tapi mereka selalu mendoโ€™akan dan tidak ada acara berlebihan setelah berhasil menempuh pendidikan Strata-2. Dan saya mensyukurinya. Bersyukur karena saya bisa selalu menjadi sederhana saja.

Meskipun begitu, beberapa hari ini, tekad saya untuk melanjutkan lagi pendidikan saya mulai tumbuh lagi. Saya merasa bahwa saya bisa mempertahankan keinginan saya ini. Tidak untuk tahun ini karena saya rasa masih kecil kemungkinannya. Mungkin tahun depan. Jika tidak, tahun depan lagi. Jika tidak, tahun depannya lagi. Saya akan memperjuangkan dan mempersiapkannya dengan baik. Mohon doโ€™a agar konsisten.

Bukan kenapa-kenapa. Saya hanya ingin membuktikan kepada diri saya sendiri bahwa saya bisa melakukannya dan bisa menghargai pemberian-Nya. Bahwa saya bisa meraihnya. Seperti kata Pak Cik Andrea Hirata:

 โ€œOrang-orang itu telah melupakan bahwa belajar tidaklah melulu untuk mengejar dan membuktikan sesuatu, namun belajar itu sendiri, adalah perayaan dan penghargaan pada diri sendiri. (hlm. 197)โ€ #Andrea Hirata

Pemandangan Kuil di Asakusa Temple, Tokyo. Gambar diambil ketika mengikuti kegiatan SPR Tsukuba. Semoga bisa balik lagi. ^_^

๐ŸŒธโ„๐Ÿ€

Saya memiliki keyakinan bahwa studi doktoral tidak akan semudah studi magister. Butuh persiapan yang benar-benar matang. Persiapan niat. Persiapan bahasa. Persiapan mental. Persiapan tenaga. Persiapan kekuatan untuk konsisten. Resilience. Enthusiasm. Persiapan ketekunan untuk belajar dan beradaptasi. Dan persiapan-persiapan lainnya. Jadi, tentu harus dari awal dan harus disiapkan bertahun-tahun.

Saya menyadari bahwa diri saya saat ini masih jauh dari kata siap untuk menempuh studi doktoral. Bahasa inggris misalnya, masih jauh. Jika hanya sekadar listening dan reading, mungkin masih lumayan. Tapi speaking dan writing saya masih jauh dari kata siap. Oleh karena itulah, saya akan mempersiapkannya mulai dari sekarang.  

Mohon Izin kepada Pemilik Semesta juga penting. IA yang menguasai segalanya. Mohon izin setiap ada kesempatan. Setelah itu, mohon izin orang tua dan guru. Ini tidak boleh lupa.

Persiapan niat juga tidak kalah penting. Niat kita dari awal selalu menentukan bagaimana kita akan menjalani sesuatu. Niat hendaknya tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri saja, tapi sebisa mungkin dapat membawa banyak manfaat bagi sekitar ketika sudah selesai menempuhnya. Yang lebih penting dari itu, niat karena Allah SWT. Ini yang paling penting karena belajar itu sesungguhnya untuk semakin mengenal-Nya. Tidak ada yang lain. Jika kita belajar dan memiliki pengetahuan yang sangat luas, tapi itu semakin menjauhkan diri kita dari mengingat-Nya atau kita lupa sama sekali, maka itu tidak ada artinya. Melanjutkan studi itu juga bagian dari ibadah. Kita sedang mengemban tugas mulia dari Allah SWT untuk mensyukuri nikmat akal yang diberikan-Nya dan untuk membaca tanda-tanda yang dihamparkan-Nya di semesta ini. Semakin kita banyak mempelajari sesuatu, hendaknya membuat kita semakin yakin dengan kekuasan Allah SWT.


Dalam pandangan saya pribadi, melanjutkan studi doktoral jika kita merasa mampu juga merupakan bentuk syukur kita kepada Allah SWT. Bagaimana tidak, semua manusia diberikan potensi yang sama untuk mendapatkan sesuatu, tapi tidak semua ditakdirkan untuk bisa memperoleh sesuatu tersebut. Jika kau merasa mampu melakukannya, lakukan dan perjuangkan. Itu adalah bentuk syukurmu terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.

๐Ÿ๐ŸŒธ๐Ÿ€โ„

Tulisan ini tidak begitu rapi, kan. Tidak apa-apa lah ya. Ini adalah catatan awal. Tulisan di blog ini semoga menjadi saksi tertulis jika suatu saat, Amrul Jihadi, Ph.D. resmi. Amiin YRA.

Salam hangat,

Hidup dan Bola

๐Ÿ€โ„๐Ÿ๐ŸŒธ

Hadapilah setiap pertandingan dalam hidup itu seperti sedang bermain bola. Selalu masih ada kesempatan untuk bertanding dan berbuat sebelum tiga peluit terakhir berbunyi.

Jangan takut untuk berlari dan menendang bolanya. Bola itu bulat, seperti juga takdirNya kepada kita. Kita tidak akan tahun akan ke mana dan akan jatuh seperti apa. Tugas kita adalah membawa bola menuju gawang dengan se-kemampuan kita.

Kalah dan menang ketika bertanding itu tidak mengapa. Yang mengapa adalah tidak bertanding ketika menganggap lawannya itu lebih kuat. Pun, jika kita harus menghadapi lawan yang benar-benar kuat, apa salahnya. Kita hanya tinggal bertanding. Malah, lawan yang lebih kuat membuat kita juga belajar banyak. Jika saatnya, kemenangan juga akan datang.

๐ŸŒบ๐Ÿ€โ„

Jadi, begitulah hidup. Mari bertanding dengan baik. Bola itu masih akan menggelinding selama peluit terakhir belum berbunyi.

Bukankah, hidup yang tidak diperjuangkan tidak akan dimenangkan. Kata seorang bijak.

Salam,

Review Sederhana Tentang Buku Guru Aini karya Andrea Hirata (1)

๐Ÿ€โ„๐ŸŒธ

Perkenalan pertama dengan buku atau novel karya Andrea Hirata terjadi belasan tahun silam ketika masih menempuh pendidikan di Pondok. Karya pertamanya yang sangat berkesan adalah Laskar Pelangi. Siapa yang tidak kenal Novel tersebut di tahun itu?!. Novel tersebut sangat laris dan menarik sehingga diterjemahkan ke belasan bahasa dunia. Berkisah tentang perjuangan penulis sendiri dan teman-temannya dalam menempuh pendidikan di desa kecil di Bangka Belitung dan kepintaran sahabatnya yang luar biasa. Ia juga berkisah tentang keikhlasan Bu Guru Muslimah dan Pak Harfan mendidik mereka dengan ikhlas.

Tetralogi karya Andrea Hirata selanjutnya berkisah tentang takdir dan perjuangan yang membawanya bisa kuliah di Luar Negeri, di Sorbonne, Prancis.


Perkenalan itulah yang sangat membekas sehingga saya mengikuti novel-novel beliau hingga yang terbaru saat ini. Termasuk buku Guru Aini. Buku ini ditulis dengan penulisan yang khas. Dengan kata-kata yang sederhana. Ia berkisah tentang idealisme seorang guru matematika muda yang terinspirasi oleh gurunya. Namanya Ibu Desi Istiqomah. Setelah menyelesaikan sekolah menengahnya, ia melanjutkan pendidikan Guru.

Ketika selesai pendidikan guru, setiap lulusan akan diundi untuk penempatan tempat pengabdian sebagai guru. Setiap orang harap-harap cemas. Sebagian besar berharap ditempatkan di tengah-tengah kota agar akses lebih mudah. Namun memang, harus ada yang ditempatkan ditempat terpencil sehingga penentuannya menggunakan undian. Singkat cerita, Ibu Desi memilih untuk menggantikan temannya yang menangis karena terpilih untuk mengajar di lokasi terpencil.

Suka duka bahkan dihadapi Bu Guru Desi sebelum perjalanan, selama perjalanan, hingga ia berhasil sampai di tempat tujuannya.

To be continued.. ๐Ÿ™‚

Salam,

Merantau – Salah Satu Cara Memperluas Hidup

###

Di tanah rantauan, mau tidak mau kau akan dilatih untuk hidup โ€˜sendiriโ€™ dan mandiri. Pada akhirnya, kau akan menjadi bebas melakukan apa pun yang kau inginkan. Sembari menanggung resiko dan menghadapi tantangan dari pilihan yang kau ambil.

Di luar itu, tertait tentang merantau, kau bisa baca tulisan Prof. Ariel Heryanto di link berikut: https://arielheryanto.com/2016/03/04/perantau/

Menjadi perantau itu memiliki kelebihan tersendiri yang tidak akan pernah kau dapatkan jika tidak merantau. Yang paling berubah adalah pola pikir, lalu kebiasaan sehari-hari. Jika kita menemukan pola pikir yang tepat, maka itu sangat bagus sekali. Jika pun tidak, selama tidak berhenti belajar, itu juga bagus. Kebiasaan sehari-hari yang dilakukan sendiri merupakan pengalaman yang pasti dirindukan oleh para perantau ketika sudah kembali ke โ€˜kampung halamanโ€™. Tentu tidak semua kebiasaan di perantauan harus dibawa pulang.

Menurut pak Dahlan Iskan, perantau itu memiliki kesempatan yang jauh lebih tinggi untuk sukses dibandingkan dengan yang tidak merantau. Hal ini disebabkan perantau menggunakan sebagian besar waktunya dalam keseharian untuk melakukan yang benar-benar ingin dilakukannya. Jika tidak merantau, ia akan terkungkung dengan kondisi sosial di daerahnya. Ia tidak bisa secara bebas melakukan apapun yang diinginkannya. Pasti ada saja urusan yang โ€˜harusโ€™ dilakukan di luar prioritas kehidupan yang benar-benar ingin dilakukannya. Silaturrahmi dengan kawan lah, diajak main-main lah, urusan keluarga lainnya lah, urusan dengan masyarakat lah, bercengkrama ngalor ngidul dengan teman-teman, santai-santai sambil ngopi, makan tinggal makan dan tidak akan takut akan makan apa nanti atau besok, banyak aturan yang mau tidak mau harus dijalankan. Ini bukan hal yang buruk ya. Tapi, ya, begitulah.

Bersepeda menuju Ichinoya Dormitory, Tsukuba

Pada titik tertentu, tidak merantau baik di satu sisi, namun memiliki banyak kelemahan di sisi lainnya. Jadi merantau lah, walaupun memang, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk merantau.


Bagi mereka yang sudah merasakan merantau, kadang ia akan berpikir bahwa jika tidak merantau, kita memang bertahan hidup, tapi tidak hidup sesungguhnya. Ia jarang sekali akan punya banyak waktu untuk ambisi dan dirinya sendiri. Kecuali memang, ia punya komitmen yang kuat untuk dirinya sendiri.

Banyak hal yang bisa didapatkan dari merantau. Sudah banyak yang membahas ini. Boleh dicari di situs-situs lainnya.

Usahakan untuk pernah merantau, karena di sanalah kau bisa menemukan diri mu sendiri. Jika tidak ketemu ketika merantau, kau akan menemukannya ketika sudah tidak merantau.

Merantau lah, maka kau akan menemukan bahwa dunia ini selalu lebih luas dari yang kita pikirkan tentangnya. Jika belum bisa merantau secara fisik, paling tidak, kita bisa merantau secara pikiran.  

#Salam #Respost Tulisan sebelumnya

Seorang Anak itu Berharga

Seorang anak sudah dilahirkan demikian adanya. Terserah Sang Pencipta. Yang jelas, ia pasti ditempatkan ditempat terbaik. Pernah tahu, di mana kupu-kupu meletakkan telurnya?. Kupu-kupu itu meletakkan telurnya di bagian daun tertentu, biasanya di bagian bawah daun. Tapi banyak yang ditempat lainnya. Intinya, ia akan memilih tempat terbaik untuk keturunannya nanti. Ketika akan menetas, dipastikan harus sudah ada makanan yang tersedia di dekatnya. Lingkungannya harus aman adar tentu saja tidak dimangsa musuhnya.

Lebah Ceratina mengunjungi bunga untuk saling memberi manfaat

Seperti itulah makhlukNya, apalagi Sang Kholiq. Terlahir di manapun, orang lain tidak punya keuntungan seperti kau yang di lahirkan dari keluarga tersebut.

Jadi mari selalu bersyukur.


Dikutip dari akun twitter @meyysi, bahwa Habib Luthfi pernah berpesan:

Pesan ulama-ulama sepuh dulu, kalau ingin punya anak yang Hebat dan Berkah, orang tua terutama ibunya harus mau tirakat. berikut anjuran nirakati anak:

  • Kasi harta yang Halal. Anak jangan sampai diberi harta yang masih ‘remang-remang’ kehalalannya, apalagi yang haram, sangat dilarang.
    • Puasai hari kelahiran anak. Orang tua hendaknya berpuasa pada ahri kelahiran anaknya walaupun hanya sebulan sekali.
      • Menjaga lisan. Artinya, orang tua selain menjaga lisan kepada anaknya, jangan sampai menggiabah, mencaci atau menghina orang lain terlebih lagi guru anaknya walaupun guru itu di hadapan manusia terlihat orang biasa.
    • Setiap ibu mencuci beras yang akan dimakan anaknya, hendaknya beras itu dibacakan Bismillah 21 kali dan Shalawat 11 kali.

Kita hanya bisa berusaha, sisanya, serahkan kepada departemen Ketuhanan.

Salam,

Merdeka Itu Hak

โ„๐ŸŒธโ˜˜

Menjadi merdeka adalah kebutuhan setiap manusia. Dengan menjadi merdeka, ia bisa menentukan kehidupannya dengan bebas sesuai dengan apa yang ingin dilakukan. Kebebasan inilah yang merupakan salah satu nikmat luar biasa yang diberikanNya pada setiap manusia.

Suasana pagi hari di Sembalun

Dalam manaqibnya, Imam Asy-syafi’i pernah berkata: “Allah menciptakanmu dalam keadaan merdeka, maka hiduplah sebagaimana kau diciptakan.”

Twitter: @thoriqotuna

Kau tahu kawan,

Merdeka itu bukan berarti tidak memiliki pegangan. Merdeka itu, hanya berpegang padaNya.

Merdeka itu bukan berarti bebas melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya. Merdeka itu, kita mengambil keputusan yang sudah diperhitungkan.

Merdeka itu jujur. Kalau kau berbohong, kau tidak akan pernah bisa merdeka. Percayalah.

Merdeka itu mengambil keputusan dengan terlebih dahulu berdo’a padaNya. Bukan mengambil keputusan seenak hati. Jika sudah izin kepadaNya, apapun kenyataan yang terjadi, itulah yang baik.

Merdeka itu adil.


“Seorang terpelajar harus sudah adil sejak dari dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan” #Pramoedya Ananta Toer

Salam,

Setiap Orang tidak Diciptakan Sama

๐ŸŒธโ„๐Ÿ‚

Hidup yang dijalani setiap orang berbeda-beda. Hanya karena kita bisa melakukan sesuatu, tidak berarti orang lain bisa melakukannya. Pun, hanya karena orang lain bisa melakukannya, tidak berarti kita juga bisa melakukannya. Banyak faktor yang memengaruhi. Hal ini mungkin terkesan seperti menyarankan orang untuk mudah menyerah atau tidak berjuang seperti orang lain. Tidak. Tidak seperti itu. Hal di atas berarti bahwa masing-masing diri kita bisa melakukan apa yang mampu kita lakukan, pun sebaliknya. Mengenal apa yang bisa dan tidak bisa kita lakukan adalah salah satu cara pertama untuk lebih baik.

Dalam banyak cerita, tidak sedikit orang yang berjuang mati-matian sekuat tenaga, lalu mendapatkan apa yang diperjuangkan. Namun, kita juga perlu ingat bahwa lebih banyak lagi orang-orang yang sudah berjuang sekuat tenaga dan belum mendapatkan apa yang diperjuangkannya. Keduanya orang-orang hebat. Mereka berjuang, itu intinya. Daripada orang yang langsung menyerah.

Lebah Xylocopa sedang menuju bunga. Mereka saling membutuhkan.

“Kita harus rela melepaskan beberapa hal untuk mendapatkan hal-hal lainnya. Karena, tangan kita tentu saja tidak akan bisa memegang semua hal yang kita inginkan”

Nah, hal yang menentukan pada akhirnya adalah takdir yang diberikan kepada kita oleh Sang Maha. Seberapapun kita berusaha mendapatkan sesuatu, jika bukan untuk kita, kita tidak akan dapat. Sahabat Rasulullah SAW berkata, “Sesuatu yang ditakdirkan untuk kita, tidak akan melewati kita”. Kita perlu juga mengerti bahwa takdir dan usaha itu adalah sesuatu yang berbeda. Kita tidak bisa semata-mata mengatakan itu takdir kita jika tidak atau belum berusaha. Dan juga, seorang sufi pernah berkata, “Jika engkau ditakdirkan berdo’a dan berusaha, itu adalah tanda awal akan tercapainya apa yang engkau inginkan”. Kurang lebih, seperti itu.


Maka, mari berusaha untuk tidak iri terhadap orang lain. Ada sih manfaatnya, tapi tidak banyak. Kalau kata Gus Baha, “Awal mula rasa tidak syukur kita adalah melihat apa yang dimiliki orang lain”

Lebih baik berusaha saja mensyukuri yang ada. Itu bisa mengikat nikmat tersebut. Dari pada tidak mensyukuri yang ada, itu bisa melepaskan nikmat yang sudah ada. โ˜˜๐ŸŒธโ„

Salam,