Tentang Hidup

Kawan, kau tidak tahu apa-apa tentang hidup…

jalani saja dengan baik setiap harinya, maka hidupmu akan menjadi lebih tenang..

tak usah lah berpikir macam-macam, jalani sembari tetap berdo’a agar selalu menjadi hamba-Nya. Ku tanya, gelar apakah yang lebih tinggi daripada menjadi hamba-Nya?! Katanya memang tak ada.

hidup itu, sedih dibawa tenang, senang pun dibawa tenang. Tidak ada yang spesial dalam hidup selain kau dibiarkan hidup oleh-Nya. Ini sudah anugerah yang besar dari-Nya.

jangan salah, kita memang tidak tahu apa-apa tentang hidup. yang akan terjadi nanti pun tidak pernah ada kepastian nya.

kalau kata habib syech, seperti dikutip di salah satu gambar:


“Manusia hanya punya harapan, sedangkan Allah punya kepastian. Silahkan berharap, namun jangan memastikan”

Sudah, itu saja..

“Wahai Ibu” #PuisiHZ

🍀🌸❄

Wahai ibu…

Cintamu telah kau limpahkan sepenuh hati,, dengan apa mesti aku balas air susumu?!

Keringat dan air mata yang engkau tumpahkan, adalah sungai pelayaran aku menuju lautan..

Maka,, dengan darah ku basuh dosa anakmu ini..

Ibuu,, kau merawat ku saat aku sakit hingga aku sehat kembali.

Tiada yang bisa menggantikan dirimu di dunia ini.


Ibu,,,

Maafkanlah karena aku tak dapat membalas jasa-jasamu kepadaku

Sungguh besar kasih sayang dan pengorbanan mu yang engkau berikan dengan tulus, tanpa pamrih kepadaku..

Bila Allah telah berkenan mengambil diri dan jiwa ini,

Maka keridhoan mu adalah saksi bisu bagiku…

Semoga Allah mempertemukan kita di jannah-Nya. Amiin Yaa Robbal’aalamiin

Sumber: anonim karena lupa.

Oleh: #HaipaZuhala

‘IMPIAN’ menjadi motivasi terbesar, bisa kah? (2)

Selamat pagi, kawan.

Semoga sehat selalu dan semoga dimudahkan untuk berbahagia..

(Mengutip dari Ibu Lya Fahmi https://www.facebook.com/mufliha.fahmi)

Saya lanjutkan tulisan sebelumnya, ya..


Sejak saat itu, impian-impian lainnya mulai muncul. Banyak sekali. Dari yang ada kemungkinan untuk dicapai, hingga yang tingkat kemungkinannya mustahil. Maklum, seiring bertambahnya usia dan pengalaman, maka sedikit bertambah pula rasionalitas tentang keadaan yang dihadapi.

Sejak itu, muncul juga kekhawatiran-kekhawatiran lainnya. Ya, tentang impian-impian itu.

Pokoknya, ada sesuatu yang masih kurang pas. Tentang konsep impian yang saya pahami. Tentang takdir yang saya imani. Tentang bagaimana menyikapi ketika tidak tewujud. Tentang bagaimana niat awal ketika melangkah untuk mewujudkan impian itu. Tentang bagaimana mengatasi kekecewaan ketika pada kenyataannya, tidak bisa selalu terwujud. Tentang bagaimana untuk terus bermimpi, namun tetap bisa selalu bersyukur.

Pertanya-pertanyaan itu, paling tidak menurut saya pribadi, sedikit terjawab dari status WA Kiai dari Jombang yang pernah belajar di Australia Natioanal University. Berikut kira-kira kutipan beliau:

X: Apa impian yang ingin anda capai, Mas?

Y: Nggak ada. Saya ngga punya impian yang pengen dicapai. Ada sih beberapa keinginan tapi itupun ngga banyak dan ngga sampai impian juga. Kalau terwujud ya alhamdulillah, ngga juga biasa aja.

X: Berarti hidup anda kurang motivasi?

Y: Justru sebaliknya. Saya selamat dari ketakutan2 yang tidak perlu, termasuk takut untuk bersikap sesuai kebenaran yang saya yakini karena kuatir ada orang tidak suka lalu berbuat sesuatu yang membuat impian saya tidak terwujud.

X: Tapi sebenarnya kan impian2 itu yang jadi motivasi kita, Mas?

Y: Kalau saya ngga gitu melihatnya. Saya ngga perlu menjadikan hal yang abstrak, belum terjadi dan tidak nyata sebagai sumber motivasi saya. Lihat sekeliling kita. Semua yang sudah ada dan kita punya menurut saya itu yang mestinya jadi motivasi karena motivasi terbaik adalah rasa syukur. Lagipula, kalau impian yang jadi motivasi anda, ada kemungkinan anda bisa jadi kecewa nantinya. Kemudian ketika impian itu menguasai anda, anda akan rela untuk merendahkan diri secara berlebihan kepada manusia lain hingga kehilangan martabat demi mencapai impian2 itu.

X: Berarti sebenarnya anda ini cuma takut kecewa aja menurut saya ma.

Y: Kalau kecewa di sini maksudnya dalah gagal atau harapan yang tidak terwujud, saya ngga takut sama sekali. Dalam hidup, sukses dan gagal adalah biasa karena semua itu bukan kita yang tentukan. Kita hanya bisa tentukan sebatas prosesnya saja. Nah, kecewa yang saya takut kalau saya kemudian kehilangan jatidiri saya sebagai manusia seperti merendahkan diri secara berlebihan, membenarkan yang salahm atau menggadaikan kebenaran dan keyakinan hanya demi tercapainya impian saya. Kalau ini semua saya lakukan, saya bukan lagi seorang manusia. Dan saya ngga mau itu terjadi.

Keramainan di Asakusa Temple

Jadi seperti itulah. Rasa Syukur haruslah menjadi motivasi terbesar kita.

Sekian untuk tulisan kali ini, Salam…

‘IMPIAN’ menjadi motivasi terbesar, bisa kah? (1)

‘IMPIAN’ menjadi motivasi terbesar, bisa kah?

Bagi sebagian orang, IMPIAN menjadi salah satu harapan yang masih ada ketika misalkan saat ini ia masih berada di tahap yang biasa-biasa saja untuk menjadi lebih baik. Bagaimana tidak, banyak cerita-cerita tentang orang-orang yang mempunyai impian lalu berhasil mewujudkannya. Manusia cenderung akan melihat seseorang ketika seorang tersebut berhasil, misalnya berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya, berhasil meraih impiannya atau berhasil sukses menurut standar masyarakat. Mereka yang di luar kategori itu? Tidak banyak yang mau meliriknya. Apalagi mau menceritakannya. Hal inilah yang menyebabkan cerita-cerita motivasi menjadi salah satu penyemangat bagi orang-orang yang sedang berjuang mewujudkan impiannya. Apapun itu.

Cerita orang-orang yang gagal atau orang-orang biasa? Siapa yang mau mendengar ceritanya. Kecuali, Novel Karya Andrea Hirata: “Orang-orang Biasa”. Hhee. Novelnya bagus, sila yang mau membacanya.


Menjadikan impian sebagai salah satu motivasi memang sangat berpengaruh bagi setiap orang. Tapi tentunya, pengaruhnya akan berbeda-beda tergantung orangnya dan takdir dariNya. Saya termasuk salah satu orang yang berhasil mewujudkan salah satu impian saya, misalnya. Saya cerita sedikit.

Kenangan masa kecil saya sebagian besar diisi oleh kenangan tentang hari minggu ketika menyaksikan kartun di televisi. Dari pagi hingga siang, acara kartun terus menghiasi. Ada banyak momen yang menggambarkan keindahan Negara Jepang. Itu sangat membekas sekali. Apalagi, kisah-kisah tentang kemajuan teknologi di Jepang saat itu sangat terkenal sekali. Karena mungkin saya tidak begitu senang mempelajari sejarah (yang banyak menghafal tanggal), jadi kisah tentang bagaimana jepang menjajah Indonesia tidak begitu berbekas.

Hari berganti. Usiapun terus bertambah. Tahun ke tahun. Ketika sudah memasuki usia belasan, saya yang masih sangat polos membuat tabungan bambu. Tabungan itu bertuliskan “Go to Japan”. Seingat saya, itu dibuat ketika masih di Madrasah Tsanawiyah. Mengapa sampai terpikirkan? Yaa, kurang tahu juga. Mungkin karena membuat impian itu memang gratis. Dan ketika itu, tidak terpikirkan juga bagaimana cara meraihnya. Mimpi dulu saja. Terwujud atau tidak tidak pernah terpikirkan.

Di masa itu pun, saya sering pergi ke warnet (warung internet). Ketika itu, karena masih di pondok, jadi tidak bisa boleh pegang handphone. Dan tidak punya juga. Berbeda dengan saat ini. Perkembangannya sudah jauuh sekali berubah. Mulailah saya berlajar sedikit-sedikit bahasa Jepang. Yah, belajar-belajar saja. Tidak ada motivasi apa pun. Bermimpi-bermimpi saja, tidak ada motivasi lainnya.

Suasana Kuil Asakusa, Tokyo, Jepang

Singkat cerita, akhirnya di tahun 2018, saya pertama kali menginjakkan kaki di Negeri Jepang. Kesempatan itu alhamdulillah bisa menjadi motivasi dan menyadarkan diri bahwa

“Jika kita terus mencari ilmu, kita tidak akan tahu, ilmu kita itu akan membawa kita ke mana. IA selalu punya cara”

#AJ

Tulisan saya tentang mimpi ke jepang juga bisa dibaca di:

***Bersambung***

Betapa Kecil – Kita

#Tanpa dipikirkan pun, kita tidak tahu apa-apa.. ❄🌸🍃

Dalam banyak ceramahnya, Gus Baha sering kali mengingatkan kita semua yang mendengarkan ceramah beliau bahwa kita ini sudah semestinya selalu terkagum-kagum akan ciptaanNya. Tidak perlu menunggu adanya meteor jatuh ataupun menunggu adanya alien datang ke bumi, menunggu melihat aurora di kutub sana, melihat sunset ataupun sunrise di pinggir pantai untuk mengucapkan Subhanallah – memujiNya. Sederhana, cukup lihat makhluk yang kecil saja. Misalnya Nyamuk. Kita, bisa atau tidak membuatnya mirip dengan detil-detilnya? Bagaimana sistem kerjanya yang kecil itu? dll dll.

Sehingga, beliau mengutip perkataan Imam Ali, “Di akhirat nanti, iman q takkan bertambah meski menyaksikan banyak keagunganNya. Bukan kah dalam keseharian kita pun penuh dengan keajaiban, keagunganNya?”

###

Baiklah, maaf, pembukanya terlalu panjang.. 🙂


Mendengarkan mereka yang benar-benar berilmu, yang benar-benar ahli di Bidangnya menjadikan kita tahu diri, seberapa kecil kita dan seberapa besar IA.

Tema yang menarik ini membahas tentang dunia dari yang terkecil yang sekarang diketahui oleh manusia dengan bantuan ilmu pengetahuan, sampai ilmu tentang seberapa besar semesta yang kita tinggali saat ini. Ilmu ini tentu akan berkembang, dan kita akan lebih tidak ada apa-apanya.

Bagian terkecil dari kehidupan ini adalah Quarks dan Leptons. Ukurannya kurang dari 10-18 m. Bayangkan sendiri, seberapa kecil bagian ini. Satu meter dibagi satu+nolnya 18. Kemudian, bagian yang paling besar yang bisa diamati dengan ilmu pengetahuan saat ini adalah 1026 m. Di antara ‘dunia’ yang ada di semesta ini, kita berada pada dunia Mesoskopik. Kita berada di tengah-tengah antara dunia terkecil dan terbesar.

Ada begitu banyak hal yang dipelajari sari ini semua. Kau tahu kawan, yang baru bisa kita amati dari materi yang dikenal di bidang fisika hanyalah sebanyak 4,2%. Sisanya adalah bagian semesta yang belum dapat kita fahami atau dengan kata lain, 96% of universe contents not known. Beruntungnya, ada karakter hukum alam yang diikuti oleh semua materi di semesta. Contohnya, gaya gravitasi. Ini salah satu hukum alam yang bisa dipelajari manusia.

Di atas adalah ringkasan materi oleh Prof. Husin Alatas sebagai pemateri pertama.

Beliau juga menambahkan,,

||| Dengan kalimat penutup “… Now I know that I knew nothing..” Artinya, sekarang, saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa (tentang dunia ini) |||

Serangga yang pura-pura mati di dekat halte, Asrama Ichinoya, Tsukuba-shi, Japan

Pembicara kedua adalah Prof. Antonius Suwanto. Bidang keahlian beliau adalah Bakteri.

Beliau membuka dengan kalimat “Microbes: Our invicible – Invincible partners”. Ah,, carilah sendiri artinya.

Selanjutnya, beliau kemudian menjelaskan bahwa bakteri adalah bagian dari kehidupan kita yang tidak banyak kita sadari. Padahal, jumlah bakteri dalam tubuh kita lebih banyak dibandingkan dengan jumlah sel kita.. Jumlah sel di tubuh kita lebih kurang 10.000.000.000.000 sel, sedangkan jumlah bakteri dalam tubuh kita sepuluh kali lipatnya. Bisa dibayangkan.

Pengetahuan umum kita tentang sumber energi utama adalah matahari, mungkin perlu dikoreksi lagi. Bahwa, di tempat yang tidak terkena sinar matahari pun, masih terdapat kehidupan.

Beliau menutup, “You are your bacteria”. Intinya, kita juga terdiri atas sekumpulan bakteri. Ada saatnya juga, bakteri di tubuh kita memengaruhi otak kita berpikir. Memang luar biasa.

Pembicara terakhir adalah Dr. Rilus,,

Beliau merangkum semua materi dari awal, kemudian beliau menyampaikan,

“Dalam diri kita, terdapat I and me. Bagian ‘I’, lebih independen dan kreatif sedangkan bagian ‘me’, kita sebagai objek.”

Akhirnyaaa,,

Semakin kita belajar, semakin kita tidak mudah menjawab pertanyaan dan semakin kita sadar bahwa semakin diri kita tidak banyak mengetahui. Pada akhirnya, semoga semua ilmu yang kita dapatkan menjadikan kita lebih dekat denganNya.

#Repost tulisan 19-02-19

Peran Model dalam Pengembangan Pembelajaran

###

Dalam proses pembelajaran terdapat istilah model yang memiliki arti sebuah kerangka/rancangan pembelajaran yang menggambarkan sebuah prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan suatu pengalaman belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman pagi para perancang dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar. Oleh sebab itu anda sebagai calon pendidik/instruktur atau sebagai guru/instruktur yang sekaligus sebagai perancang dan pelaksana aktivitas pembelajaran harus mampu memahami model-model pembelajaran dengan baik agar pembelajaran dapat terlaksana dengan efektif dan efisien

Sering ditemukan di lapangan bahwa guru menguasai materi dengan baik tetapi tidak dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik.  Hal itu terjadi karna kegiatan tersebut tidak didasarkan pada model pembelajaran tertentu sehingga hasil belajar  yang di peroleh siswa rendah. Untuk membelajarakan siswa sesuai dengan cara gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapau dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Dalam prakteknya, guru harus ingat bahwa tidak ada model yang paling tempat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh karena itu dalam memilih metode pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa sifat materi bahan ajar.

Referensi: Buku Model-model Pembelajaran, karya: Suci Handayani, M.Pd.

Disusun Oleh:

Anam Haridah, Mahasiswa UNIQHBA.

Model-model Pembelajaran

Definisi Model Pembelajaran

Model atau pola biasanya digunakan sebagai acuan atau pedoman untuk membuat, merancang, atau melaksanakan sesuatu kegiatan agar hasil yang didapatkan sesuai dengan yang diharapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar juga diperlukan suatu model agar pelaksanaan dan hasil pembelajaran efektif dan efisien. Model ini kita sebut sebagai model pembelajaran.

Pembelajaran menurut para ahli:

  • Menurut Corey (Sagala, 2010: 61), pembelajaran merupakan suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ikut andil dalam sebuah proses bertingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu.
  • Menurut Trianto (2010: 51), model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial.

Dalam sebuah pembelajaran, model pembelajaran adalah sebuah prosedur atau pola sistematis untuk melaksanakan pembelajaran agar membantu belajar siswa dalam tujuan tertentu yang ingin dicapai.

Macam-macam Model Pembelajaran

     Adapun macam-macam model pembelajaran yang sering digunakan dalam sebuah proses belajar mengajar yaitu:

  1. Model Pembelajaran Langsung

Pembelajaran langsung dapat diartikan sebagai model pembelajaran ketika seorang pendidik  mentransformasikan/mentransfer sebuah  informasi atau keterampilan secara langsung kepada peserta didik.

2. Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Pembelajaran ini membantu peserta didik untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya.

Model Pembelajaran Inquiri

Pembelajaran inquiri adalah suatu kegiatan pembelajaran yang melibatkan seluruh kemampuan peserta didik yang dipergunakan mencari dan menyelidiki secara sistematis, sehingga peserta didik mampu merumuskan sendiri penemuannya atau dengan apa yang diperoleh dengan penuh percaya diri.

###

Disusun oleh:

Marina Hariani, Mahasiswa UNIQHBA.

Sederhana dalam Hidup

🌺🍃🍂

Sebuah kata yang untuk mencapainya, butuh latihan panjang. Sederhana memandang hidup akan bisa kita rasakan setelah melewati banyak hal. Jika sederhana yang tidak mau tahu, ya bisa kapan saja. Bisa siapa saja. Tapi sederhana yang anggun, tidak banyak yang bisa. Tidak mudah diraih. Butuh melewati banyak hal.

Kesederhanaan akan sempurna dengan hati yang damai, hati yang lapang, perasaan yang tidak mudah menghakimi dan menilai. Yang terpenting, sederhana memandang kehidupan di dunia ini, yaitu dengan hanya harus menjadi hambaNya. Hanya jadi hambaNya.. 🍁🌸☺❄

Sang Idealis Matematika – Review Novel Guru Aini (2)

🍁🌸❄

“Matematika itu menarik. Jika bisa ditemukan. Kau hanya perlu menemukan saat menarik itu”

Kalimat di atas terdengar klise. Tapi memang benar bagi sebagian orang. Bagi sebagian lainnya, ia akan tetap menjadi bidang ilmu yang cukup sering dijauhi. Dilirik pun tidak. Tapi ingat saja, dasar-dasarnya itu penting. Jadi jangan menjauhinya terlalu jauh.

Novel Guru Aini ini bercerita tentang perjuangan Bu Desi mengajarkan matematika. Ia terinspirasi dari gurunya dahulu yang mengajar matematika dengan menyenangkan. Tekadnya mulai tumbuh ketika itu sehingga ia mengambil sekolah kedinasan guru matematika. Sebagai pemuda, Bu Guru Desi punya idealisme tinggi. Banyak cobaannya memang. Idealismenya harus tetap dipertahakan. Pernah ia hampir akan melepaskan idealismenya, tapi tidak jadi.


Ketika sudah sampai dengan bersusah payah di tempat Bu Guru Desi bertugas, ia terkenal Guru yang eksentrik dan masih idealis. Sampai seterusnya, ia memegang prinsipnya. Ia percaya, kemiskinan dan kepercayaan diri yang rendah membuat mereka selalu merasa hal-hal akademik yang hebat akan selalu menjadi milik orang lain, milik orang kota, milik anak-anak cemerlang di sekolah-sekolah hebat. Ia bertekad akan menemukan seorang jenius matematika untuk dididiknya langsung. Ini bukan melulu soal matematika, ini soal keberanian bermimpi. Ibu Desi lalu membuat janjinya.

Aku akan terus memakai sepatu olah raga pemberian ayahku sampai anak jenius matematika itu di kampung Ketumbi ini dapat kutemukan.

Waktu terus berlalu. Ia punya sahabat Laila tempatnya berkisah tentang masalah dan cita-citanya.

“Seorang guru matematika haruslah menjadi seorang idealis, Laila, begitu pendapatku”.

Ia melanjutkan:” Tanpa idealisme, matematika akan menjadi lembah kematian pendidikan”

#Novel Guru Aini

Gantungan kunci di Asakusa

Sayangnya, dari kelas yang satu ke kelas lainnya, tahun ajaran terus berganti, anak jenius seperti yang diharapkannya tak kunjung ditemukannya di Kampung Ketumbi. Dan ternyata juga, nasib yang sama dialami oleh teman-teman lainnya yang dikirim ke sekolah-sekolah lain.

Masih idealis, Bu Desi juga berpendapat: “Kemampuan matematika itu tidak dilahirkan, Laila, tapi dibentuk”

Sayang seribu sayang, selama bertahun-tahun, ia belum juga menemukan si jenius matematika.

Bersambung 🍁🌸❄

Salam,

Melanjutkan Studi PhD, sepertinya Menarik

“Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati… – Arai” ❄🍀🌸😊

“Pesimistik tidak lebih daripada sikap takbur mendahului nasib.”

#Pak Cik Andrea Hirata; Sang Pemimpi

“Jika kau tidak mengambil resiko, kau tidak akan bisa menciptakan masa depan” #Monkey D. Luffy


Judul di atas hanyalah pemanis. Kenyataannya, tidak akan mudah, harus diakui. Tapi tidak juga mustahil, pasti ada kemungkinan. Semangat. ❄☘🌸

Saya terlahir di keluarga yang tidak terlalu mengerti tentang seberapa sulit perjuangan memperoleh pendidikan yang tinggi. Tapi mereka selalu mendo’akan dan tidak ada acara berlebihan setelah berhasil menempuh pendidikan Strata-2. Dan saya mensyukurinya. Bersyukur karena saya bisa selalu menjadi sederhana saja.

Meskipun begitu, beberapa hari ini, tekad saya untuk melanjutkan lagi pendidikan saya mulai tumbuh lagi. Saya merasa bahwa saya bisa mempertahankan keinginan saya ini. Tidak untuk tahun ini karena saya rasa masih kecil kemungkinannya. Mungkin tahun depan. Jika tidak, tahun depan lagi. Jika tidak, tahun depannya lagi. Saya akan memperjuangkan dan mempersiapkannya dengan baik. Mohon do’a agar konsisten.

Bukan kenapa-kenapa. Saya hanya ingin membuktikan kepada diri saya sendiri bahwa saya bisa melakukannya dan bisa menghargai pemberian-Nya. Bahwa saya bisa meraihnya. Seperti kata Pak Cik Andrea Hirata:

 “Orang-orang itu telah melupakan bahwa belajar tidaklah melulu untuk mengejar dan membuktikan sesuatu, namun belajar itu sendiri, adalah perayaan dan penghargaan pada diri sendiri. (hlm. 197)” #Andrea Hirata

Pemandangan Kuil di Asakusa Temple, Tokyo. Gambar diambil ketika mengikuti kegiatan SPR Tsukuba. Semoga bisa balik lagi. ^_^

🌸❄🍀

Saya memiliki keyakinan bahwa studi doktoral tidak akan semudah studi magister. Butuh persiapan yang benar-benar matang. Persiapan niat. Persiapan bahasa. Persiapan mental. Persiapan tenaga. Persiapan kekuatan untuk konsisten. Resilience. Enthusiasm. Persiapan ketekunan untuk belajar dan beradaptasi. Dan persiapan-persiapan lainnya. Jadi, tentu harus dari awal dan harus disiapkan bertahun-tahun.

Saya menyadari bahwa diri saya saat ini masih jauh dari kata siap untuk menempuh studi doktoral. Bahasa inggris misalnya, masih jauh. Jika hanya sekadar listening dan reading, mungkin masih lumayan. Tapi speaking dan writing saya masih jauh dari kata siap. Oleh karena itulah, saya akan mempersiapkannya mulai dari sekarang.  

Mohon Izin kepada Pemilik Semesta juga penting. IA yang menguasai segalanya. Mohon izin setiap ada kesempatan. Setelah itu, mohon izin orang tua dan guru. Ini tidak boleh lupa.

Persiapan niat juga tidak kalah penting. Niat kita dari awal selalu menentukan bagaimana kita akan menjalani sesuatu. Niat hendaknya tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri saja, tapi sebisa mungkin dapat membawa banyak manfaat bagi sekitar ketika sudah selesai menempuhnya. Yang lebih penting dari itu, niat karena Allah SWT. Ini yang paling penting karena belajar itu sesungguhnya untuk semakin mengenal-Nya. Tidak ada yang lain. Jika kita belajar dan memiliki pengetahuan yang sangat luas, tapi itu semakin menjauhkan diri kita dari mengingat-Nya atau kita lupa sama sekali, maka itu tidak ada artinya. Melanjutkan studi itu juga bagian dari ibadah. Kita sedang mengemban tugas mulia dari Allah SWT untuk mensyukuri nikmat akal yang diberikan-Nya dan untuk membaca tanda-tanda yang dihamparkan-Nya di semesta ini. Semakin kita banyak mempelajari sesuatu, hendaknya membuat kita semakin yakin dengan kekuasan Allah SWT.


Dalam pandangan saya pribadi, melanjutkan studi doktoral jika kita merasa mampu juga merupakan bentuk syukur kita kepada Allah SWT. Bagaimana tidak, semua manusia diberikan potensi yang sama untuk mendapatkan sesuatu, tapi tidak semua ditakdirkan untuk bisa memperoleh sesuatu tersebut. Jika kau merasa mampu melakukannya, lakukan dan perjuangkan. Itu adalah bentuk syukurmu terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.

🍁🌸🍀❄

Tulisan ini tidak begitu rapi, kan. Tidak apa-apa lah ya. Ini adalah catatan awal. Tulisan di blog ini semoga menjadi saksi tertulis jika suatu saat, Amrul Jihadi, Ph.D. resmi. Amiin YRA.

Salam hangat,