Pentingkah Berada di Lingkungan yang Baik dan Sehat?

Rasa sedih ataupun kesepian adalah hal yang sangat manusiawi dirasakan setiap orang. Rasa sedih tersebut juga adalah emosi yang sangat umum bisa dirasakan setiap orang. Tapi kembali lagi pada diri kita sendiri bagaimana cara kita untuk menerima kesedihan tersebut. Bahkan, kita pun bisa ada pada titik dimana rasa sedih itu sangat sakit sehingga kita harus menumpahkan air mata.

Seperti hal nya kisah Kalila seorang Mahasiswa universitas swasta yang mengalami kesedihan yang sangat mendalam akibat ucapan ataupun tindakan teman kecilnya.
“Saya baru sadar kalo mereka toxic, dulu pas masih kecil saya emang sering dibully, diolok-olok, dan diperintah beliin mereka makanan biar boleh ikut main sama mereka. Yang namanya kita masih kecil, masih iya-iya saja digituin, walaupun sering nangis karena ga boleh main sama mereka.
Pas SMP-SMA malah mereka yang sering nyariin saya ngajak main. Dari sana saya mikir mungkin udah besar jadi udah berubah ya. Tapi ternyata tidak. Kejadian masa kecil tetap terulang dan saya selalu jadi bahan tertawaan dan olok-olokan mereka lagi”, kata wanita 20 tahun itu.

Rasa sedih dan stress setiap kali kumpul dengan temannya terkadang tidak bisa dihindari. Sampai akhirnya, Kalila bertemu dengan teman yang baik di kampusnya. Mereka sangat positif dan selalu mendukung hal baik yang di lakukan.
“Sekarang saya beruntung bisa mendapat teman yang baik, mereka selalu memberi semangat, tidak pernah menghakimi saya dan siap mendengarkan saya”
Tetapi mahasiswa ini mengaku kadang masih bertemu dengan teman masa kecilnya itu
“Iya saya kadang diajak main, tapi sekarang lebih membatasi waktu sih, kalau udah ga ada pembahasan yang baik, saya memilih langsung pulang ke rumah untuk melindungi diri saya.”

Dari kisah tersebut, kita bisa belajar bahwa kita harus memilih lingkungan pertemanan yang baik dan tidak masalah jika kita harus kehilangan teman untuk mendapat teman yang lebih baik dan berkualitas. Jika kita merasa lingkungan pertemanan kita tidak membawa suatu hal yang positif dan hanya merugikan kita, akan lebih baik jika kita meninggalkan lingkungan tersebut.

Manfaat Berada di Lingkungan Pertemanan yang Sehat

Tidak bisa dipungkiri bahwa menjalin relasi yang sehat bisa membawa banyak manfaat baik dalam hidup kita terutama kesehatan mental. Adapun manfaat lainnya seperti:

  1. Mengingatkan kita untuk terus berbuat baik
    Jika setiap hari bergaul dengan orang yang positif maka pastinya kita menyaksikan sendiri bagaimana kebaikan hati lewat perbuatan nyata nya. Ia tidak perlu banyak mengucapkan kata-kata untuk mengingatkan kita untuk berbuat baik.
  2. Menularkan kebiasaan baik
    Jika teman baik kita taat beribadah maka kita juga akan tertular untuk melakukan hal yang sama.
  3. Mempunyai energi yang selalu positif
    Mempunyai lingkungan yang baik dan sehat bisa membawa energi dalam hidup. Jika lingkungan kita selalu memancarkan aura yang positif, maka tentunya kita akan ikut terbawa aura positif dan berlomba-lomba melakukan hal positif.

###

Ditulis oleh Luluk Auliya

Runtuh Lebaran

Meruntuhkan sesuatu, secara umum untuk tidak mengatakan semua, lebih mudah dibandingkan membangun sesuatu.

Sebuah rumah yang dibangun bertahun-tahun, bisa diruntuhkan dalam waktu beberapa jam saja. Jika menggunakan alat berat, mungkin hanya beberapa menit saja. Sebuah gedung bertingkat juga memiliki keadaan yang sama. Lebih mudah menghancurkannya. Jadi mari tidak membanggakan apa yang kita miliki. Kita jaga dengan baik. Semuanya dariNya, IA bisa mengambilnya kapan pun.

Keadaan manusia juga sama. Citra diri dan n ama baik setiap orang juga sama. Nama baik setiap orang yang dikenal baik selama bertahun-tahun, bisa rusak hanya karena melakukan sebuah kesalahan sekali saja.

Secara logika, kan kita sebenarnya tidak adil sekali. Kita hanya melihat kesalahan yang dilakukannya saja, tanpa memikirkan kebaikan yang dilakukannya selama bertahun tahun. Kita memang lebih sering tidak adil, sebagai manusia.
Coba pikirkan baik-baik. Seberapa besar sih kesalahannya sehingga kita langsung melabel ia tidak baik?.

Tapi yaa, namanya juga manusia. Kita lebih senang melihat kesalahan orang lain yang hanya sedikit dibandingkan kebaikannya yang lebih banyak. Mari belajar tidak mewajarkan nya.
Sudah lah, kita belajar melihat kebaikan orang lain.


Dugaan saya:
Jangan-jangan, kita lebih senang melihat keburukan orang lain agar kita punya pembenaran bahwa kita lebih baik?

Jangan-jangan, kita lebih melihat keburukan orang lain dan malah mencari-carinya karena kita tidak dapat kebaikan darinya?

Jangan-jangan, kita senang melihat keburukan orang lain karena kita sadar bahwa kita lebih buruk darinya?


Kita punya keburukan kita sendiri. Orang lain punya keburukannya sendiri. Fokus perbaiki keburukan kita dengan yang lebih baik. Sedapat mungkin kita berusaha menutupi aib saudara-saudari kita, sambil saling menasehati jika kita punya hak.

Runtuh dan terbangun itu akan saling bergiliran dalam hidup. Jadi biasa saja lah. Yang penting tetap perbaiki diri.

Tradisi masyarakat Jepang, jika ada cangkir yang retak, maka mereka akan menambalnya dengan emas, menambalnya dengan yang terbaik.
Keburukan kita juga seharusnya sama. Kita ganti dengan yang lebih baik.
Semoga kita bisa. Mari saling memaafkan sebelum lebaran.

###Repost

Riak Langkah

Sebagai manusia, kita tidak akan bisa selalu ideal. Jadi, dalam hidup, kita jangan berpikir harus ideal. Berusaha saja dengan baik, itu sudah lebih dari cukup.

Engkau sudah dibantu banyak orang untuk sampai di tahap ini. Maka, bantulah lebih banyak orang jika kau bisa. #prinsip

Quote

“Bermimpilah, karena tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu…” (Arai)

#Buku Edensor, Andrea Hirata

And, I made it true.. 🙂

cropped-img_20180729_123907

Pic: It is me, behind me is Tokyo Skytree, July 29, 2018